Hukum rajam pada wanita

Posted on Februari 7, 2012

0


GEREJA Katolik Roma di
Vatikan turut bersimpati atas nasib
seorang perempuan di Iran yang
menanti hukum rajam. Maka, lewat
diplomasi, Vatikan berupaya membujuk
pihak berwenang Iran untuk
meringankan vonis bagi terpidana agar
terhindar dari hukuman brutal itu.

Demikian juru bicara Vatikan, Federico
Lombardi, Minggu 5 September 2010. Dia
menanggapi nasib yang dialami
perempuan bernama Sakineh
Mohammadi Ashtiani. Janda dua anak
itu divonis hukum rajam pada 2006 atas
kasus perzinahan. Pada Juli lalu otoritas
Iran menunda eksekusi, namun
hukuman bagi Ashtiani tidak berubah.
Putra Ashtinani, Sajad, mengaku kepada
kantor berita Italia, Adnkronos, bahwa
dia telah memohon Kepala Gereja
Katolik Roma, Paus Benediktus XVI, dan
Italia agar berupaya membantu ibunya
terhindar dari eksekusi rajam.
Namun, Lombardi mengaku bahwa
Vatikan tidak menerima permohonan
secara resmi. Kendati demikian, Paus
(Tahta Suci) mengikuti kasus itu.
Lombardi juga mengisyaratkan bahwa
Vatikan kemungkinan menerapkan
pendekatan diplomasi untuk
menyelamatkan Ashtiani. Namun,
langkah itu tampaknya tidak dilakukan
secara terbuka.
“Saat Tahta Suci diminta, dengan cara
yang patut, untuk turun tangan dalam
isu-isu kemanusiaan dengan pihak
berwenang di negara-negara lain –
seperti yang sering terjadi di masa lalu –
maka langkah itu tidak dilakukan di
depan umum, melainkan melalui
saluran-saluran diplomatik,” demikian
pernyataan Lombardi.
Vatikan pun menyatakan bahwa rajam
merupakan hukuman berat yang brutal.
Hukuman itu berupa melempar batu ke
arah terpidana hingga mati. Pada
dasarnya, menurut Lombardi, Vatikan
menentang hukuman mati dalam
bentuk apa pun.
:

: