JIBRIL TIRUANNYA GABRIEL

Posted on Februari 24, 2012

0


Semua pihak tahu bahwa dalam Islam, Jibril
adalah figur sentral dari kemutlakan Quran.
Kitab Suci Islam tak lain tak bukan dipercaya
sebagai hasil transmisi lengkap dan sempurna
dari Jibril, yang membawa pewah yuan Allah
SWT kepada NabiNya yang terakhir,
Muhammad. Dan Muhammad bukan siapa-
siapa bila Jibril tidak mengunjunginya dari
waktu kewaktu. Tidak ada Quran dan tak ada
Islam tanpa oknum yang satu ini.
Jadi kenapa sampai saat ini, jati-diri Agen
Pewahyu ini tidak disorot dan di-elaborasi
dengan sungguh-sungguh? Aneh bahwa praktis
tak ada buku serius yang membicarakan who-
is-who Jibril itu. Muslim umumnya taken for
granted bahwa ia pasti utusan Tuhan semesta
alam. Tetapi apa yang mendasarinya?
Dalam dunia dimana kebenaran begitu sering
dibajak oleh kepalsuan dan retorika, kita perlu
mawas untuk sesekali mengenakan
“pembuktian-terbalik”, yaitu suatu pengandaian
negatif yang dikenakan kepada apayang
selama ini kita terima baik, atau apalagi yang
kita idolakan. Sebab ketika kita mengidola,
disitulah kita mudah dibutakan oleh kita
sendiri.
Namun ada seorang feminis Muslim liberal
bernama Irshad Manji, yang merasa terpanggil
mengajukan secara terbuka pertanyaan
spesifik atas “kemutlakan Quran”:
What if the Quran is not perfect?
What if it’s not a completely God-authored
book?
What if it’s riddled with human biases?
Dan kita bisa teruskan lagi …
What if Quran memuat inkonsistensi
pewahyuan?
What if Quran salah-wahyu yang nyata,
seperti yang dipermasalahkan terbuka tentang
kesalahan geografi, sejarah, sains,
anakronisme, dll?
What if Jibril abad ke-7 itu bukan malaikat
Gabriel di abad ke-satu? Melainkan Ruh yang
diserupakan dengan Gabriel belaka, persis
seperti halnya Isa diserupakan dengan
seseorang lainnya tatkala disalib?
What if Jibril menipu-daya Muhammad dan
tidak membawakan firman Allah,melainkan
membawa suara dirinya dengan mengatas-
namakan Allah-allahan?
Awas, jangan kita menafikan “what ifs” ini
tanpa pendalaman kajian secara kritis. Alkitab
dan sejarah telah menunjukkan dan mewanti-
wanti tentang berkeliarannya Mesias-mesias
palsu disekeliling kita (Mat.24:23-25) yang
amat spesialis dalam penyesatan melebihi
kejelian manusia manapun. Bahkan secara
spesifik disebutkan bahwa iblis-pun bisa
menyamar aspal seperti Malaikat Terang (2
Kor.11:14).
Selama ini Muslim hanya mematok label
bahwa Alkitab itu wahyu-imitasi, tetapi
samasekali tidak siap – bahkan tidak bersedia
– untuk meneropong what if Jibril, kalau-kalau
dia-lah yang imitasi, misalnya! Sesungguhnya,
tanpa curiga apapun juga melainkan secara
hipotetis saja, setiap kita seharusnya sejak
awal memberikan probabilitas 50 –50 untuk
meragukan Jibril itu, sampai dia (dan bukan
manusia) membuktikan klaim dirinya Jibril,
utusan dari Tuhan yang sejati! Itu saja sudah
suatu kemurahan.
Afterall, siapakah didunia ini yang telah
membuktikan sosok Jibril tersebut? Tidak ada
kecuali asumsi manusia belaka.
Lebih jauh lagi, manusia memperluas
asumsinya sampai-sampai menetapkan bahwa
Jibril-Al-Quran itu sama dengan Gabriel-Alkitab,
dan Jibril itu tak lain tak bukan adalah
Rohulqudus!?
Spekulasi menjadi makin berani dan liar.
Nyatanya tak ada Jibril yang mengklaim apa
yang diklaim itu dengan bukti-bukti. SO, What
if the medium of transmission is false? Mari
kita simak dengan lebih cermat.
Berlainan dengan Alkitab dimana nabi-nabinya
boleh bertanya balik kepada Tuhannya, Quran
hanyalah monolog satu arah, yang saling
mengatas-namakan tiga sumber suara yang
tanpa tanda dan saksi mata: suara Muhammad
yang mengatas-namakan suara Jibril dan
mensumberkannya sebagai suara Allah!
Ini otomatis menantang keabsahan klaim
Islam bahwa Quran adalah pewahyuan yang
langsung, 100% dari mulut Allah tanpa
intervensi para makhluk. Justru transmisi
berjenjang yang monolog dan tak bersaksi-
bukti inilah yang sangat rawan terhadap
pemalsuan apa saja atas nama Allahnya yang
samasekali tersembunyi.
Sebagai contoh liar, tetapi benar (dalam extensi
asumsi yang sedang berjalan), bahwa seorang
yang mengklaim dirinya nabi bisa saja
mengklaim bahwa ada empat oknum yang
terlibat dalam rantai pewahyuan (bukan tiga)
bagi dirinya, yaitu Allah, Jibril, Jin Islam, dan
nabi. Dalam ketiadaan bukti luar dan para
penyaksi, lalu siapa yang sanggup peduli akan
4 mata-rantai ini jikalau tidak ada yang peduli
akan suara 3-rantai, seperti yang diklaim oleh
Islam sekarang ini?
Untunglah Yesus (dan Taurat) peduli! Ia
berkata: “Kalau Aku bersaksi tentang diri-Ku
sendiri, maka kesaksian-Ku itu tidak
benar” (John 5:31)
Dan dalam ayat 33, Dia menunjuk Nabi Yahya
antara lain sebagai penyaksi nya, dan ini
bahkan dibenarkan oleh Quran pula dalam Qs.
3:39. Yesus juga meneguhkan semua ini
dengan sejumlah mujizat adikodrati yang
hanya dimilik oleh sosok Allah sendiri, seperti
membangkitkan orang mati, mendatangkan
makanan dari langit, menaklukkan setan, dan
badai-gelombang. Inilah kunci keabsahan suatu
wahyu yang tidak dipunyai oleh Muhammad
untuk menghadirkan “Allah” yang diatas-
namakannya.
Dalam setiap pertarungan roh — apapun
manifestasinya — selalu terjadi pertarungan
diantara dua “Bapa”, yaitu Bapa Sorgawi
(Mat.6:9) dan “Bapa segala dusta” (Yoh. 8:44).
Bapa Sorgawi memerintahkan kita untuk
jangan percaya begitu saja akan setiap roh,
karena roh penipu terlalu licin dan mudah
sekali memperdaya manusia yang kurang
paham akan kasak-kusuk roh jahat. Itu
sebabnya Tuhan mengharuskan kita untuk
menguji kalau-kalau suatu roh itu benar
datang dari Tuhan atau bukan, sebab Alkitab
berkata, “Iblispun menyamar sebagai Malaikat
Terang” (1 Yoh.4:1, 2 Kor.11:14).
Tetapi sebaliknya Al-Quran menutup pengujian
ini oleh manusia dengan pendalilan bahwa itu
bukan termasuk kawasan urusan mereka:
“Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan
tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan
sedikit” (Qs.17:85).
Akibatnya Ruh “Jibril” tidak pernah dikenakan
ujian apapun oleh Muslim, malahan Ruh ini
tampaknya berusaha menutup pintu pengujian
ini dengan melabelkan cap kepada si penguji
sebagai “musuh dan penghujat Allah” yang
harus dibungkam, kalau perlu dengan
kekerasan!
Roh kegelapan yang benci akan kebenaran,
selalu berusaha keras (kalau mungkin dengan
kekerasan) agar manusia tidak mendapat
kesempatan untuk menguji dirinya yang roh.
Keberadaan kita yang terbatas, apalagi
berdosa, turut mengaburkan mata-batin untuk
melihat jalan yang lurus. Kita manusia tidak
mungkin menandingi (dari kekuatan kita
sendiri) roh-jahat yang memang spesialis
dalam menyamarkan kebenaran.
Untuk mengikis keraguan terhadap apa yang
dikatakannya, Ruh ini menurunkan pula ayat-
ayat yang menslogankan kemutlakan Quran,
khususnya satu ayat yang di-elu-elukan secara
heroik: “kalau sekiranya Al-Quran itu bukan
dari sisi Allah, tentulah mereka dapati banyak
pertentangan didalamnya.”
Tetapi dengan hati yang sedikit jernih saja, kita
sudah akan menemukan “banyak kekeliruan
dan inkonsistensi quraniah” secara kasat mata.
Dalam pewahyuan yang paling awal saja, Jibril
telah mewahyukan penciptaan manusia dalam
pelbagai versi yang saling kontradiktif, namun
Muslim menelan begitu saja tanpa merasa ada
yang tidak beres didalamnya.
Dimulai dengan wahyu pertama kepada
Muhammad dalam surat Al-Alaq 1-5, bahwa
manusia diciptakan dari “segumpal darah”.
Bukankah pernyataan ini sudah tidak didukung
secara sains?
Maka kelak wahyu ini diperbaiki dengan versi
lain, yaitu penciptaan-manusia dari “setetes
mani (Qs.80:19 dll).
Kemudian diperbaiki lagi: “Dia (manusia)
diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar
dari antara sulbi (tulang punggung) dan taraib
(tulang dada)” (Qs.86: 5-7). Adakah air mani
terpancar dari sumber-sumber yang absurd
demikian.
Tetapi bagian dari sulbi ini masih juga tetap
dikonfirmasikan pada Qs.7:172.
Baru kemudian (mungkin setelah dengar-
dengaran dari kalangan Yahudi/ Nasrani
tentang penciptaan Adam/manusia) barulah
Muhammad mengadopsi versi kreasi manusia
yang dimulai dari “tanah” (Qs.37:11).
Dan untuk menutup kesimpang siuran pelbagai
versi yang tidak akurat (ngawur) yang
terlanjur diwahyukan, maka datanglah wahyu
susulan yang mencoba mengharmonisasikan
semua versi penciptaan, yaitu dari “tanah,
kemudian dari mani, kemudian dari segumpal
darah” (Qs.40:67).
Inipun masih dicampur-adukkan dengan
macam-macam proses lain, yaitu dari sari
tanah, kemudian air mani, lalu segumpal darah,
yang jadi segumpal daging, yang disusul
dengan proses menjadi tulang-tulang, dan
selanjutnya pembalutan tulang oleh daging dst.
(Qs.23: 12 dst…).
Tahapan-tahapan lepas demikian tentulah
hanya ada dikhayalan dan pembe lajaran
Muhammad yang ummi. Dan Anda akan
menyaksikan banyak contoh tahapan-tahapan
sejenis untuk isu-isu lainnya, sejalan dengan
makin banyaknya — tidak mesti makin
benarnya — Muhammad dengar-dengaran
informasi luar untuk diadopsikannya ke dalam
Al-Quran.
Sementara Dr. Bucaille, seorang pembela Islam
yang gigih, bahkan merasa perlu meralat
tafsiran penciptaan tersebut dengan berkata:
“Ini adalah suatu kekeliruan yang perlu kita
koreksi. Manusia tidak pernah melewati tahap
“gumpalan darah” (Bible, Quran dan Sains
Modern, p.236, tr.Dr. HM. Rasjidi)
Jadi, siapa Jibril dan siapa pula Rohulqudus
yang di Jibril-kan? Siapakah Jibril? Apakah ia
benar Gabriel utusan Allah? Apakah ada
klaimnya dan disusul dengan buktinya?
Adakah ia memperkenalkan namanya kepada
Muhammad secara formal, atau sedikitnya
dalam kepatutan perkenalan? Tahukah Muslim
kapan Jibril memperkenalkan nama dirinya
menurut Quran?
Benarkah Jibril itu juga Rohulqudus, padahal
Gabriel itu bukan RohKudus? Dan kenapa
wahyu Quran kepada Muhammad harus
memakai agen-antara Jibril, jikalau dulu Tuhan
selalu bersabda langsung dengan nabi-
nabiNya?
What if Jibril berwajah ganda yang mengklaim
dirinya sebagai Allah — yang memang tidak
pernah dibuktikannya? (Miryam Ash).
Orang umumnya berpendapat bahwa kesulitan
untuk memahami sebuah Kitab Suci dimulai
dari apa yang tercantum dalam teks Kitab Suci
itu sendiri. Tentu saja itu benar secara umum.
Tetapi untuk Al-Quran, ada yang lebih sulit dari
pada apa-apa yang sekedar tampak tertulis,
yaitu siapa-siapa yang terlibat dalam menulis
nya! Apakah itu Allah, Tuhan semesta alam,
ataukah itu Malaikat (Jibril?), atau Muhammad,
dan para sahabatnya?
Muslim percaya bahwa itu adalah Kata-kata
Allah yang ditransmit-kan murni secara
berantai lewat Jibril, dan dimasukkan murni ke
dalam hati dan pikiran Muhammad, yang nanti
menjadi juru suara murni tersebut, untuk
dicatat murni oleh sahabat-sahabatnya. Empat
“murni” yang tidak dibuktikan sama sekali!
Dengan perkataan lain, Muslim cenderung
mengasumsikan kebenaran mutlak dari ke-4
oknum berbeda tadi dan ke-4 sistim
transmisinya yang juga berbeda, yang
kesemuanya disandarkan pada “mulut
Muhammad seorang”!
Dalam sebuah terbitan Islami di USA dari
Memphis Dawah, ada diterbitkan sebuah buku
berjudul “Who Wrote The Quran?” Di situ
dikatakan bahwa Quran adalah mutlak berasal
dari God dan Muhammad adalah utusan God.
God dan Muhammad harus diterima dan
dipercayai serentak atau tidak samasekali.
Sebab orang tidak bisa sepihak memilih
menerima pesan-pesan God tetapi menolak
utusanNya, atau sebaliknya.
Dikatakan lebih lanjut bahwa hanya ada 3
kelompok pendapat terhadap penulis Quran,
yaitu:
Mereka yang berkata bahwa Muhammad-lah
yang menulis Quran, tetapi penda pat ini harus
dicoret dengan alasan utama bahwa
Muhammad itu “buta huruf”.
Seorang lain dari Muhammad yang menulis
Quran. Tetapi inipun harus disingkirkan dengan
alasan, tidak terdapat pengaruh Kristen dan
Yahudi terhadap orang di sekitar Muhammad.
Quran adalah murni firman Allah tanpa campur
tangan manusia.
Karena tak mungkin lagi ada kelompok lain,
maka inilah satu-satunya yang harus diadopsi,
apalagi Allah menyodorkan tantangan menulis
“Surat Semisal Quran” yang dipercaya tidak
bisa dipenuhi oleh manusia manapun (manusia
ditantang Allah untuk membuat satu surat saja
sebagus/seistimewa salah satu surat Quran!
Bila ada yang sanggup, maka itulah bukti
bahwa Quran bukan ditulis oleh Allah,
melainkan manusia saja).
Ini semua berasal dari satu asumsi naif, bahwa
Kalimat dari manusia tidak bisa ditiru sebaik
seperti Kalimat Allah! Padahal tak ada
pembuktian bahwa itu adalah Kalimat Allah,
kecuali diklaim oleh Muhammad…
Dengan demikian Memphis Dawah mengklaim
berhasil membuktikan bahwa pendapat (1) dan
(2) adalah mustahil, sehingga pendapat ke- (3)
lah yang harus benar, sambil menantang orang
lain membuktikan sebaliknya.
Ini adalah “apologetika” dangkal yang memilih
metode induksi untuk membuktikan Al-Quran
sebagai Kalam Allah. Tentu saja kerangka
pembuktian semacam ini adalah salah kaprah
dan menggelikan. Ibarat Polisi (manusia yang
terbatas) membikin list yang terbatas tentang
siapa-siapa yang mungkin bisa dianggap
sebagai maling, lalu mencoret siapa-siapa yang
dirasakan tidak mungkin jadi maling, dan yang
tertinggal dari coretan itu pastilah MALING!
Para ilmuan, khususnya para pendidik dan
psikolog akan mematahkan kerangka
pembuktian semacam ini dengan sekali pukul,
tanpa usah diperdebatkan lagi.
Mereka akan mempertanyakan kepada
Memphis Dawah apakah tulisan ajaib dari
seorang kanak-kanak penyandang otis
misalnya, juga akan otomatis dianggap
sebagai murni firman Allah tanpa campur
tangan manusia? Sebab mereka terlalu sering
menjumpai anak-anak autis yang “buta-huruf”
ternyata malah bisa menulis sebuah surat atau
sanjak dalam bahasa asing yang orang tuanya
sendiri tidak kuasai dan tidak ajarkan kepada
sang anak! Jelas bahwa suara (atau kelak jadi
tulisan) yang dianggap tidak mungkin berasal-
mula dari manusia itu tidaklah otomatis
suaranya Tuhan! Suara Tuhan harus dibuktikan
oleh suaraNya sendiri, yang ditampilkan
dengan otoritas adikodrati yang menyertaiNya
– dan bukan oleh anggapan anggapan tentang
suaraNya, atau klaim yang mengatas-namakan
“suara transmisi” dari agen-antara tanpa tanda
adikuasa.
Menguji Ruh yang Mengatas-namakan Allah
Ayat per ayat, kata per kata telah diturunkan
oleh Jibril atau yang disebut Ruhulqudus (Roh
Kudus) selama 23 tahun kepada Muhammad.
Terhimpunlah selama itu sekitar 6240 ayat
Quran. Tetapi seperti dikatakan diatas,
semuanya taken for granted tanpa diuji,
seolah-olah Jibril yang ruh ini memang mutlak
harus datangnya dari Tuhan Semesta Alam!
Tetapi Imam al-Syafi’i cukup bijak
memperingati umat Islam hal yang mungkin
sebaliknya, “Pendapat kita benar tetapi masih
ada kemungkinan salah; pendapat mereka
salah tetapi masih ada kemungkinan benar”.
Menggunakan metode terbalik untuk pengujian
ruh adalah satu-satunya pendekatan,
mengingat lihainya setiap ruh bermanifestasi
dalam “rupa dan suara Allah”.
Irshad Manji tidak merasa bersalah menguji
seseorang atau sesuatu yang dianggap sakral
dengan What if? Makin dia sakral dan benar,
makin dia ingin memperlihatkan dirinya
sebagai sang benar, dan tidakmenghancurkan
orang yang mencari kebenaran!
Ya, What if Jibril itu bukan utusan Tuhan,
mengingat Jibril memang tidak membuktikan,
kecuali hanya mengaku-ngaku dirinya lewat
Muhammad.
Dan tentu saja Muhammad tidak tahu apa-apa
tentang dia, karena tidak mempunyai sumber
lainnya yang bisa memberi penerangan balik
(baca: check and balance) atas mahkluk ini!
Jibril telah memblokir penyidikan atas dirinya
dengan menyodorkan Qs.17:85. Namun, fakta
dilapangan memunculkan banyak misteri yang
mustahil yang harus dipertanggung jawabkan
oleh Jibril.
*) I. Misteri Mustahil Pertama,
ajaib tetapi benar bahwa Muhammad “tidak
mengenal siapa dan apa nama malaikat
pewahyunya” selama ia berada di Mekah.
Itu baru diketahui Muhammad setelah ia hijrah
ke Medina! Banyak Muslim tidak tahu bahwa
seluruh 85 surat yang teridentifikasi diturun
kan di Mekah (surat-surat Makkiyah) tidak
satupun ayatnya menyebut roh pewahyu
dengan nama “Jibril”! Jadi selama belasan
tahun, sosok yang diklaim begitu intim dengan
Nabi justru namanya tersembunyi dari penge
tahuan Muhammad.
Dalam kegamangan akan namanya,
Muhammad selalu menyebut roh tersebut
berganti-ganti dengan belasan istilah yang
berbeda-beda diantara 29 kali penyebutannya
diseluruh Quran. Semua sebutan yang
berubah-ubah ini amat jelas menunjukkan
“ketidak-pastian Muhammad akan oknum agen
pewah yunya”! Misalnya ada sebutan
terjemahan dengan
ruh / ruh-Ku / ruh-Nya / ruh Kami
ruh dari Kami
Ruhul-qudus
Ruhul Amin
Malaikat dengan wahyu atas perintahNya /
(Ruh PerintahNya)
‘ruh dengan perintah Kami’, atau
rasul karim,
syadid al-quwa,
dzu mirrah,
“para malaikat” (dalam bentuk jamak) sebagai
agen pewahyu.
Baru belakangan hari di Medina, 17 tahun (!)
setelah Muhammad pertama kali mengenalnya
di Gua Hira, barulah Jibril “berkesempatan”
memasukkan sebutan ruh-ruh itu dengan
nama “Jibril” sebanyak 3 kali, yaitu pada ayat
Qs.2: 97, 98 dan 66:4 (awas, di luar ini nama
Jibril hanyalah tambahan penterjemah yang
tidak terdapat di bahasa aslinya).
Tentu hal ini sekaligus membelalakkan mata
dan membuntukan akal yang paling sehat!
Tetapi Muhammad sendiri jelas-jelas tidak
mengenal dan tidak pernah menguji siapakah
ruh yang mencekiknya di gua Hira. Dia bingung
sendiri apakah ruh itu berasal dari Tuhan atau
setan. Ruh tidak memperkenalkan namanya
sendiri, juga tidak menyapa Muhammad
dengan nama.
Ini sangat berlainan dengan apa yang selalu
dilakukan Tuhan Yahweh ketika menyapa
pertama kali kepada Musa, Zakharia dan Maria,
semua disapa namanya masing-masing bukti
bahwa Tuhan Mahatahu.
Bahkan dalam kasus Zakharia, 4 bahkan 5
nama disebut sekaligus (termasuk nama Elia):
“Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah
dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan
melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan
haruslah engkau menamai dia
Yohanes. …Akulah Gabriel yang melayani Allah
dan aku telah diutus untuk…” (ayat 19).
Sebaliknya ruh di gua Hira ini hanya mencekik
dan memaksa Muhammad dengan seruan
“Iqra” (bacalah!), lalu “Iqra” lagi, dan kemudian,
“Iqra dengan nama Tuhanmu yang
menjadikan. Yang menjadikan manusia dari
segumpal darah. Iqra! Wa rabbukal akram”.
Tak ada nama siapapun yang disebut,
Muhammad atau Jibril bahkan Allah! Apakah
dengan perkataan ini ruh tersebut telah
memastikan dirinya Ji bril utusan Allah?
Bukankah ruh jahat juga bisa berbuat hal yang
persis sama –-mencekik dan menteror
targetnya,bahkan lebih?
Teolog Islam saling bersilang pendapat, tidak
tahu persis kapan Muham mad pribadi mulai
memastikan bahwa Ruh tersebut adalah
utusan Allah, dan terlebih-lebih kapan ia mulai
disebut sebagai “Jibril”.
Memang ada hadis (muncul hampir 200 tahun
setelah Al-Quran) yang menye butkan nama
Jibril di awal kenabian Muhammad, tetapi jelas
itu hanyalah “rekayasa, ditulis belakangan
setelah ada fakta”, karena Jibril sendiri baru
memperkenalkan nama dirinya setelah di
Medina.
Dan kembali hal itu hanya memberi
kemungkinan tunggal bahwa Ruh terse but
memang tidak ingin memperkenalkan nama
dan identitas dan sumber-sumbernya, kecuali
membiarkan dirinya diasumsikan orang saja
sebagai utusan Allah, entah dinamai
Rohulqudus atau Jibril, atau Ruhul Amin, apa
saja.
Hanya lewat pandangan pribadi dari sepupu
Khadijah, yaitu Waraqah bin Naufal yang
Nasrani, maka ruh tersebut ditafsirkan sebagai
“Namus”, yang berarti “rahasia atau
“hukum” (HSB no.3). Tetapi, seandainya
Waraqah bin Naufal cukup paham akan Injil,
seharusnya ia akan menguji ruh tersebut
sebelum menjawabnya secara spontan, karena
itulah yang dipesankan Alkitab dalam 1Yoh.4:1,
“Janganlah percaya akan setiap roh, tetapi
ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari
Tuhan”.
Dan jikalau Waraqah memang paham Injil
maka seharusnya ia sudah tahu bahwa sosok
malaikat Tuhan yang datang kepada nabi
Zakharia dan Maryam adalah bernama Gabriel,
dan bukan “Namus” yang tidak diketahui sosok
atau identitasnya! Ketika ia berspekulasi
bahwa itu adalah Namus dan bukan Gabriel
(sosok historis yang definitif dalam Injil), maka
kita mempunyai alasan kuat untuk berkata
bahwa roh tersebut memang bukan Gabriel,
melainkan “Namus” versi Waraqah sendiri!
Sebaliknya Muhammad tetap gamang dan
tidak punya konklusi, karena ruh yang
misterius tersebut tetap membungkamkan
namanya, sampai akhirnya Muhammad
mendapatinya juga kelak dari sumber lain
(bukan dari yang empunya nama), yaitu
tatkala beliau berada di Medinah dan
berhubungan dengan banyak orang-orang
Yahudi !
*) II. Misteri Mustahil Kedua,
Muhammad mengakui dirinya sebagai Rasul
Allah, namun dibalik itu ternyata beliau sering
gamang tentang ruh.
Itu diketahui dari seringnya beliau di olok-olok
dan di-test oleh orang-orang Yahudi tentang
hal tersebut. Untuk menutup-nutupi
ketidakpastian, maka atas nama wahyu Allah,
Muhammad menjawab mereka:
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh,
katakanlah, ‘Ruh itu adalah urusan Tuhanku
dan kamu tidak diberi ilmu melainkan
sedikit.” (Qs. 17:85).
Tetapi ayat defensif ini jelas tidak membela
Nabi, karena mengimpresi kan pengakuan
akan kekerdilan diri beliau yang disamakan
dengan orang-orang awam yang memang
tidak diberi ilmu tentang ruh kecuali sedikit.
Padahal justru seorang Nabi mendapat hak
istimewa untuk menyedot raha sia-rahasia
tentang ruh. Konten ayat ini “menentang”
Muhammad yang mengklaim dirinya sangat
dekat dan sering bercakap-cakap dan
mereview ayat-ayat bersama dengan ruh
pewahyu setiap Ramadhan, sehingga
Muhammad tidak punya alasan untuk sama
awam tentang ruh!
Para kritisi menyimpulkan bahwa pengetahuan
Muhammad yang mendadak akan nama Jibril
(setelah gamang belasan tahun) berasal dari
“hasil interaksi Muhammad dengan orang-
orang Yahudi” di Medinah.
Sejarah kenabian Yahudi sudah mengenal
nama malaikat Gabriel seribuan tahun sebelum
Muhammad, dizamannya Daniel, dan
digaungkan lebih jauh di era Zakharia dan
Maria. Disitu Gabriel memperkenal-kan nama
dan jati dirinya sebagaimana yang layak,
tanpa bermisteri: “Akulah Gabriel yang
melayani Tuhan dan aku telah diutus untuk
berbicara dengan eng kau” (Lukas 1:19).
Gabriel yang sejati bukan hanya mengklaim,
tetapi sekaligus juga menunjukkan otoritas
dan berita kebenaran yang dibawanya dari
Tuhannya, sehingga tak ada kerancuan apakah
ini ruh jahat atau utusan Tuhan.
Pertama, seperti yang telah disebut dimuka,
Gabriel datang dan tahu dan memanggil nama
Zakharis. Ia menyampaikan nubuat ilahi
tentang kehamilan isteri Zakharia yang
mandul. Dan ketika Zakharia tidak percaya,
maka Gabriel-pun meneguhkan nubuat-nya itu
dengan kuasa mujizat langsung yang
membisukan Zakharia hingga kegenapan
nubuat tersebut terjadi, yaitu pada hari
kelahiran anaknya!
Beberapa ilmuwan sependapat bahwa
Muhammad yang tadinya dibingungkan oleh
ruh tersebut mungkin saja memberikan nama
tersendiri kepada Ruh, seperti halnya yang ia
lakukan pada nama “Yesus” yang diganti jadi
“Isa” yang tanpa makna dan otorisasi. Namun
akal sehatnya berasumsi bahwa kedatangan
seorang nabi besar berikutnya – yaitu
Muhammad sendiri – hanyalah pantas bila
datang dengan melalui jalur panggilan yang
sama dengan Yahya dan Isa, yaitu Jibril.
Alhasil nama “Jibril” inilah yang kelak diklaim
dan disandarkan Muhammad kepada Gabriel
sebagai agen pewahyu yang sama untuk abad
ke-1 dan ke-7, tanpa bukti apapun.
Jenis sandaran aspal (asli tapi palsu) yang
tanpa modal seperti itu — baik kuasa mujizat
maupun nubuat — banyak bertebaran di Quran,
dan mudah sekali diperlihatkan sepanjang kita
tidak mati-rasa terhadap kemutlakan.
Beberapa periwayatan dalam Hadis telah
mendongengkan seolah Jibril sudah
mengintroduksi jati-dirinya kepada
Muhammad, yaitu di saat Muhammad mau
membunuh diri ketika beliau sedang
kebingungan mencernakan wahyu paling awal
yang diterimanya.
Diriwayatkan, Jibril berkata: “Wahai
Muhammad, akulah Jibril, dan engkaulah
utusan Allah”(Ibn.Hisham, The Life of
Muhammad, vol.I/ 69). Periwayatan yang
datang ratusan tahun setelah Quran selesai
dikano nisasi ini tentu bisa menyisipkan nama
“Jibril” dalam narasinya sebagai bagian dari
pencocokan kemudian. Seruan Jibril demikian
(untuk memper kenalkan diri) seharusnya
datang pada saat pertama kali mereka
bertemu, dan pasti bukan belakangan setelah
Muhammad terteror dahsyat dan terus
kebingungan hingga mau bunuh diri berkali-
kali! (Sirât Rasûl Allâh, p.106/153, tr. A.
Guillaume).
Selain itu, jikalau hadis tersebut benar, tentulah
nama Jibril sudah harus banyak bermunculan
dalam surat-surat Makkiyah (wahyu yang ditu
runkan di Mekah) dan bukan memakai sebutan
“ruh” ini dan itu sepanjang belasan tahun.
*) III. Misteri Mustahil Ketiga,
apakah benar Jibril itu adalah identik dengan
Roh Kudus?
Bila Muhammad tidak dikaruniai ilmu tentang
ruh, tentu para pengikutnya akan sama halnya.
Maka dalam kegamangan akan ruh, para ahli
Islam nekad melakukan penaf siran “potong
kompas” yang over-simplistis dengan
menyamakan kedua oknum ini. Tetapi apakah
Quran memang pernah menyamakan
keduanya ? Tidak ada! Kita bisa ditipu oleh
retorika. Sedikitnya ada 3 bukti keras bahwa
Jibril itu bukan sosoknya Roh Kudus.
(I).Tak ada konfirmasi dari Allah, sementara
pakar Islam yang menafsirkannya sama
semata-mata mendalilkan salah satu fungsi
yang dikerjakan oleh kedua ruh itu terkesan
sama! Tetapi dimanapun, Jibril tidak pernah
mengatakan dirinya adalah Roh Kudus, dan
Roh Kudus tidak pernah mengklaim dirinya
Jibril!
Seluruh Quran hanya memuat 3 ayat tentang
“Jibril”, dan 4 ayat tentang “Rulhul-qudus”.
Maka kita mudah menghadapkan kedua
kelompok ayat itu sesamanya untuk men-
check kebenarannya, yaitu Qs.2: 97, 98, 66:4
versus 2:87, 253; 5:110; 16:102. Dan ternyata
dalam 7 ayat ini Allah samasekali tidak
mengidentikkan sosok Jibril dengan
Rohulqudus. Muslim menyamakan Rohulqudus
dengan Jibril semata-mata karena keduanya
dapat “menurunkan wahyu” Allah (sebagai
agen pewahyu). Tetapi mereka lupa, bahwa
aktivitas tersebut hanyalah salah satu fungsi
ad-hoc saja dari pelbagai peran ruh. Bila tidak
demikian pastilah Jibril tidak punya kerja apa-
apa lagi alias menganggur, ketika dunia
kosong dari pewahyuan. Bahkan aktifitas
itupun termasuk peran Tuhan dan setan,
dimana Tuhan bisa langsung berwahyu,
sementara setan bisa menyelinapkan ayat-
ayat setannya! (Qs22:52-53). Toh keduanya
tidak disebut “Jibril”.
(II). Roh Kudus tidak pernah membahasakan
dirinya Jibril, dan Jibril tidak pernah
membahasakan dirinya Rohulqudus Dalam
Quran, sosok Ruhulqudus hanya disangkutkan
kepada Isa Al-Masih untuk memperkuat dirinya
melakukan kuasa mujizat, dan ini tidak pernah
disangkutkan kepada sosok lainnya manapun
termasuk Muhammad.
Isa juga tidak pernah dikaitkan dengan “Jibril”
yang satu ini baik dalam pewahyuan maupun
dalam pemujizatan. Padahal dalam tradisi
Islami, Jibril senantiasa disangkutkan kepada
Muhammad untuk setiap urusan pewah yuan,
namun tak pernah ada transmisi kuasa
mujizat! Jadi, dapat kah akal sehat kita
memaksakan kedua sosok itu adalah identik?
Sebenarnya, untuk mencari tahu kaitan urusan
dengan Ruh, Muhammad telah diberi 2
rumusan yang sudah diayatkan dalam Quran,
yaitu bahwa Ruh itu urusan Tuhan, dan jikalau
ada keraguan akan wahyu agar perlu
dirujukkan kepada Alkitab (QS. 17:85, dan
10:94).
Jadi andaikata pakar-pakar ini mau sedikit
rendah hati untuk menerima rumusan/
peringatan demikian, mereka tidak akan
simpang-siur menafsir kan ruh yang bukan
dirinya.
Melainkan akan mendapati dalam Alkitab
bahwa Gabriel sudah menyatakan dirinya
secara implikatif bahwa is bukan sosoknya Roh
Kudus. Lihat bagaimana Gabriel menyampaikan
maklumat kehamilan kepada perawan Maria
muka per muka:
“Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa
Tuhan Yang Mahatinggi akan menaungi
engkau …”.
Ia samasekali tidak berkata dalam tata kata
benda pertama:
“Aku, (Roh Kudus) akan turun atasmu…”
Alkitab memberitakan secara lurus bahwa Roh
Kudus bukan mahluk ciptaan. Ia adalah oknum
integral keilahian Tuhan yang ada sejak
semula bersatu dan bersama Tuhan (lihat Kej.
1:1-2).
Ia tri-senyawa yang keluar dari Bapa, sama
seperti Firman yang berasal dari atas, juga
keluar dari Bapa, nuzul ke dunia menjadi
“Kalimatullah” dalam sosok Yesus (Yoh.15:26,
8:42, 1:1,14). Roh Kudus itulah Penolong yang
menyertai umatNya sampai kekal dengan sifat
kemaha-hadiran yang tidak dipunyai oleh
Gabriel sebagai mahluk. Daud berkata dalam
kitab Zabur/ Mazmur:
“Ke mana aku dapat pergi menjauhi Roh-Mu,
ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika
aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika
aku menaruh tempat tidurku di dunia orang
mati,di situpun Eng kau” (Mzm.139:7-8).
Dan awas, Roh Kudus ini memiliki satu hak
yang paling eksklusif melekat kepada diriNya,
yaitu “Segala dosa dan hujat manusia akan
diampuni, tetapi hujat terhadap Roh Kudus
tidak akan diampuni.
Apabila seorang mengucapkan sesuatu
menentang Anak Manusia (Yesus), ia akan
diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus,
ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan
di dunia yang akan datangpun tidak
(Yoh.12:31-32).
Jelas dan pasti bahwa hak dahsyat atas
penghujatan ini tidak mungkin diberikan
kepada seorang mahluk, sekalipun Gabriel,
apalagi Jibril yang belum pernah diberi kuasa
adikodrati apapun oleh Allah!
(III). Yang satu Maha-Ada, yang lain hanya ada
disatu tempat pada satu waktu
Secara sederhana saja tanpa usah berdebat —
artinya menuruti saja versi Islam– kita tahu
bahwa dizaman Isa Al-Masih terdapat banyak
nabi/ nabiah yang masing-masing juga
dikunjungi atau diberi wahyu oleh “Jibril”,
termasuk Zakharia, Yahya, Maryam dan Isa.
Jikalau Rohulqudus itu benar seorang Jibril
ciptaan Allah, maka pastilah ia tidak bisa
berada sekaligus mendampingi ketiga atau
empat nabi/ nabiah itu karena ia tidak bersifat
Maha-Ada yang hanya dipunyai oleh Allah.
Namun “Jibril” Islam yang satu ini, yang
mengambil jati-diri Rohulqudus bagi dirinya,
ternyata berdiri diatas ruang dan waktu.
Isa yang dikandung dari Kalimat dan Roh Allah
dan senantiasa diperkuat oleh Rohulqudus/
Jibril (Qs 4:171; 5:110).
Yahya yang sedang menyampaikan wahyu
dakwah bersamaan dengan Isa, tentu
diwahyui serentak oleh Roh Jibril.
Maryam ketika sedang mengandung Isa dalam
rahimnya (keduanya disertai Roh Allah/
Rohulqudus/ Jibril), ia masih dikunjungi oleh
seorang “Jibril lain” yang berseru kepadanya
dari luar rahimnya, yaitu “dari tempat yang
rendah” (QS.19:24).
Jadi Jibril mana lagikah yang ada didalam dan
diluar rahim Maryam, dan sekaligus ada dalam
Isa dan juga Yahya? Dapatkah mahluk roh
yang satu ini maha-ada diberbagai tempat
pada waktu yang sama? Itu bisa-bisa
menghujat Allah dengan mempertukarkan
RohNya Allah yang ilahiah menjadi mahluk
Jibril!.
*) IV. Misteri Mustahil Keempat,
apakah Jibril Quranic itu sama dengan Gabriel
Alkitab?
Samasekali tidak! Kalau Gabriel diabad kuno
bisa berkata jelas-jelas kepada Zakharia,
“Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku
telah diutus untuk berbicara dengan engkau
dan untuk menyampaikan kabar baik ini
kepadamu”, kenapa Jibril (yang dianggap
Gabriel yang lebih modern diabad ke-7) tidak
melakukan hal yang lebih jelas/ baik kepada
“Nabi Agung Terakhir” yang dikunjunginya di
gua Hira?
Sudah diperlihatkan bahwa ruh yang
mengunjungi Zakharia dan Maryam itu tidak
pernah disebut “Jibril” dalam Quran. Sama
halnya bahwa nama tersebut juga tidak
dimunculkan kepada Muhammad ketika
diturunkan wahyu-wahyu awal 6 abad
kemudian. Ini keanehan besar, bahwa sebuah
sosok ter nama tidak memperkenalkan dan
diperkenalkan.
Tetapi tatkala nama tersebut dimunculkan
setelah melewati belasan tahun
kemudian.Allah bukannya menampilkan “Jibril”
itu dalam tatacara perkenalan atau penyapaan,
melainkan justru dalam suasana memberi
peringatan keras kepada kedua isteri
Muhammad (Aisyah dan Hafsah) yang
“berkomplot” melawan suaminya:
“Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah,
maka sesungguhnya hati kamu berdua telah
condong (untuk menerima kebaikan); dan jika
kamu berdua bantu-membantu menyusahkan
Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah
Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-
orang mukmin yang baik; dan selain dari itu
malaikat-malaikat adalah penolongnya
pula” (Qs.66:4).
Yang paling kacau dan fatal dari kisah Jibril ini
adalah bahwa ruh ini (Jibril) kepergok merubah
“wahyunya” tentang sosok dirinya! Tadinya dia
mengatakan dirinya sebagai ruh tunggal yang
menampakkan diri sebagai seorang laki-laki
sempurna dihadapan Maryam (Qs.19:17).
Tetapi di Medinah, dia mengubahkannya
menjadi para malaikat jamak! (angels, lihat
Qs.3:45). Gabriel Alkitab tidak kekacauan
menyatakan siapa dirinya. Tak akan merubah-
rubah dirinya kepada Maria. Jelas Jibril
hanyalah asumsi yang sangat tak bertanggung
jawab (yang dimutlakkan oleh para- pakar
Islam) yang harus disamakan dengan Gabriel
Alkitab.
Dimanapun, Anda tidak akan menjumpai
kesamaan keduanya dalam sifat-sifat dasar,
gaya, dan karakter hakikinya, dan isi
“wahyunya”!
*) V.Misteri Mustahil Kelima,
Perhatikan bagaimana Allah telah membatasi
Muhammad untuk mengenal affair dari ruh –
“Ruh itu adalah urusan Tuhanku dan kamu
tidak diberi ilmu kecuali sedikit”. Ini dinyatakan
Allah dalam Al-Quran via Jibril, sehingga
pembatasan demikian mustahil dimentahkan
oleh kisah-kisah didalam Hadis yang ternyata
begitu banyak mendongengkan pengetahuan
Muhammad tentang ruh Jibril.
Jikalau ada pembatasan demikian, seharusnya
Muslim sadar bahwa hanya Al-Quran yang
berotoritas untuk berbicara mengenai alam ruh,
dan bukan Hadis.
Sebenarnya Muhammad telah mendapat
firasat bahwa kelak Hadis akan tercampur
baur dengan Al-Quran dalam “persaingan”
sesamanya melontarkan pesan pesan atas
nama Allah. Itu sebabnya ia memerintahkan
para sahabatnya untuk tidak menuliskan
apapun darinya kecuali Al-Quran (yaitu
pewahyuan via Jibril), dan apabila ada
sejumlah hal yang sudah terlanjur ditulis, maka
catatan itu harus dihapuskan! (Hadis Sa’id al-
Khudri).
Namun dalam kenyataannya justru Hadis yang
bukan pewahyuan itulah yang mendominasi
pesan-pesan tambahan atas nama Allah,
sampai-sampai kepada hal yang telah jelas-
jelas dibatasi oleh Allah, seperti halnya kisah
tentang ruh ini.
Maka tersebarlah di Hadis (dan bukan di Al-
Quran) berita tentang Jibril yang mempunyai
600 sayap (HSBukhari VI/ 380), atau bahwa
Aisyah sempat diistimewakan oleh Jibril
dengan mendapat salam super aneh dari
padanya, “Hai Aisyah! Inilah malaikat Jibril
mengucapkan salam
kepadamu” (HSBukhari.1431).
Untuk mana Asyiah membalas salamnya, lagi
lagi via Muhammad. Aneh, karena salam
demikian sungguh terkesan main-main dengan
otoritas Allah yang Mahatinggi, karena Dia
dimanapun tidak mengutus malaikatNya untuk
sekedar salam-salaman – apalagi via pihak
ketiga — melainkan hanya menyampaikan
berita penting atau solusi khusus secara
langsung yang berdampak bagi insiden yang
sedang berlangsung!
Perlukah salam pribadi yang tak berbukti itu
dilakukan Jibril lewat Muhammad, padahal
dalam kisahnya, Jibril tinggal selangkah lagi
sudah bisa bertemu dengan Aisyah sendiri!
Suatu salam pribadi picisan yang lebih banyak
fiktifnya ketimbang memperlihatkan
kepentingan dan kea0.
.talian pribadi dengan Aisyah!
JIBRIL VS. GABRIEL
Bila Quran berasal dari wahyu, dan Injil adalah
buatan manusia yang ingin dikoreksinya, maka
seyogyanya perbandingan kedua maklumat
diatas (Jibril vs. Gabriel) akan memperlihatkan
secara gamblang superioritas dan
kesempurnaan Quran diatas Injil. Tantangan
Muhammad berlaku, bahwa tak ada suratan
manusia yang mengungguli suratan Allah SWT
(disebut Surat Semisal Quran, 17:88, 2:23).
Itu mungkin benar, sekalipun Tuhan yang
benar akan sangat dikerdilkan bila menantang
manusia hanya sebatas cara adu-puisi, padahal
Tuhan mempunyai segudang cara adikodrati
untuk menantang siapa saja, yang langsung
akan membungkam mulut musuh-musuhNya!
Dengan adu pena, para pembaca Muslim atau
non- Muslim justru tidak mendapatkan kesan
keme nangan Jibril Quran diatas Gabriel
Alkitab, kecuali malah sebaliknya! Mari
saksikan sendiri.
Surat Maryam 19:16-22 (diturunkan sekaligus,
Surat Makkiyah awal abad ke-7, underlined
dari penulis)
16. Dan ingatlah berita Maryam dalam Kitab (Al
Quran). Ketika dia mengasingkan diri dari
keluarganya pada suatu tempat di sebelah
timur,
17. maka dia mengadakan pembatas (tabir)
dari keluarganya, lalu Kami mengutus Ruh
Kami kepadanya, lalu dia menyerupakan
dirinya di hadapan nya sebagai manusia
sempurna.
18. Maryam berkata, “Sesungguhnya aku
berlindung kepada Yang Maha Pemurah dari
engkau jika betul engkau orang yang taqwa”.
19. (Ruh) berkata, “Aku hanyalah utusan
Tuhanmu untuk memberikan kepadamu
seorang anak laki- laki yang suci”.
20. Maryam berkata, “Bagaimana akan ada
bagiku seorang anak, sedang aku belum
pernah disentuh seorang laki-laki pun (suami)
dan tiadalah aku perempuan jahat”.
21. (Ruh) berkata, “Demikianlah.” Tuhanmu
berfirman, “Hal itu mudah bagi-Ku”. Kami
hendak menjadikannya sebagai tanda bagi
manusia dan sebagai rahmat dari Kami, dan
adalah urusan itu telah ditetapkan.
22. Lalu Maryam mengandung, maka dia
mengasingkan diri dengan kandungannya ke
suatu tempat yang jauh.
Injil Kesaksian Lukas 1: 26- 40 (ditulis pada
pertengahan abad kesatu)
26. Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh
malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di
Galilea bernama Nazaret,
27. kepada seorang perawan yang
bertunangan dengan seorang bernama Yusuf
dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria.
28. Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria,
ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai,
Tuhan menyertai engkau.”
29. Maria terkejut mendengar perkataan itu,
lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti
salam itu.
30. Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan
takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih
karunia di hadapan Tuhan.
31. Sesungguhnya engkau akan mengandung
dan akan melahirkan seorang anak laki-laki
dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.
32. Ia akan menjadi besar dan akan disebut
Anak Tuhan Yang Mahatinggi. Dan Tuhan
Elohim akan mengaruniakan kepada-Nya
takhta Daud, bapa leluhur-Nya,
33 dan Ia akan menjadi raja atas kaum
keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan
Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”
34 Kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana
hal itu mungkin terjadi, karena aku belum
bersuami?”
35 Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus
akan turun atasmu dan kuasa Tuhan Yang
Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu
anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut
kudus, Anak Tuhan.
36 Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu,
iapun sedang mengandung seorang anak laki-
laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang
keenam bagi dia, yang disebut mandul itu.
37 Sebab bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.”
38 Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah
hamba Tuhan; jadilah padaku menurut
perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu
meninggalkan dia.
39 Beberapa waktu kemudian berangkatlah
Maria dan langsung berjalan ke pegunungan
menuju sebuah kota di Yehuda.
40 Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan
memberi salam kepada Elisabet.
KOMENTAR KRITIS TERHADAP PENDEKATAN
“JIBRIL”
Mari kita kaji dengan kritis bagaimana
perbandingan mutu, kelayakan, kredibilitas,
kesempurnaan dan otoritas periwayatan dari
kedua agen pewahyuan (Jibril vs. Gabriel) yang
dimaklumatkan kepada pihak si penerima
wahyu (Maryam Quranik vs. Maria Injili). Kita
mulai dengan pendekatan Jibril.
(1) Muhammad tidak paham tentang geografi,
dan Jibril tidak menuntunnya keluar dari
kekaburan-lokasi dan kekeliruan anakronisme.
Banyak risalah Quran disodorkan secara
“kabur, hanya sepenggalan, tidak nyambung”,
bahkan sampai menggeser setting kejadian
tanpa dukungan.
Keanehan segera terlihat, misalnya mulai pada
awal ayat 16 (terjemahan. berturut-turut dari
Disbintalad dan Depag):
“Dan ingatlah berita Maryam dalam Kitab (Al
Quran). Ketika dia mengasingkan diri dari
keluarganya pada suatu tempat di sebelah
timur”. “Dan ceritakanlah (kisah) Maryam
didalam Al Quran, yaitu ketika ia….(dst).”
Disini tampak para penterjemah berupaya
menggeserkan berita ini dengan memasukkan
kata “Al-Quran” sehingga diarahkan artinya
menjadi kisah Maryam didalam Al-Quran,
padahal kisah/ berita tersebut jelas terambil
dari Alkitab (the Scripture, the Book Mary, the
Book the story of Mary) atau “Kitab Maryam”
menurut teks aslinya.
Istilah wahyunya sendiri sudah
membingungkan, dan tafsirannya sengaja
diplintir waktunya, digeser dari petikan kisah di
abad kesatu menjadi wahyu baru dalam
Quran abad ke-7. Bagaimana mungkin mereka
memunculkan kata “Al Quran” yang TIDAK
ADA pada aslinya, lalu memaksakan pelarian
maknanya kesitu?
Rupa-rupanya para penterjemah ini khawatir
bilamana wahyu “Jibril” itu dihadapkan vis-a
vis dengan Injil, karena perbandingan demikian
sungguh tidak menguntungkan!
Lihat serentetan kekaburan yang tidak masuk
akal: *Kemanakah misalnya Maryam pergi
(tempat disebelah timur, tanpa nama), dan
untuk tujuan apa maka keputusan sebesar itu
diambilnya? *Kenapa ia minggat mengasingkan
diri dari keluarganya, dan mengadakan
pembatas dari keluarganya. Agaknya ada
masalah cekcok dengan keluarga? Atau
dengan Zakharia?
Tentu nabi Zakharia dan isterinya tidak
bermasalah dengan Maryam sehingga dia perlu
mengasingkan dan mengenakan pembatas
keluarga, bukan? *Sebagai anak dara yang
saleh, kenapa ia boleh minggat sendirian tanpa
muhrimnya. Apakah itu dibolehkan keluarga
besarnya dan Zakharia, padahal dikatakan
bahwa Allah menjadikan Zakaria sebagai
pemelihara Maryam dalam mihrab?! (Qs.3: 37).
Karena kosong dari pewahyuan, muncullah
pertentangan yang sia-sia diantara ulama
Islam. Ada yang mendongeng bahwa Maryam
mau retreat rohani keluar kota, dan ada yang
memastikan Maryam mau mencuci dirinya
kesebuah mata-air disebelah timur, karena risih
mendapati dirinya dikotori darah menstruasi
yang pertama kali. Semuanya tidak berguna
sebagai wahyu mulia yang mencerahkan.
Sebaliknya Injil (yang dianggap harus dikoreksi
itu) malah menjelaskan dengan sempurna
bahwa Maria bukan pergi keluar kota kearah
timur antah berantah, melainkan tinggal
dirumahnya (!) dikota (!) yaitu Nazaret (!),
ditanah Galilea!
Pengaburan lokasi dengan dalil “tempat
disebelah timur” (yang diulangi lagi pada ayat
22 dengan istilah mirip “tempat yang jauh”),
hanya menunjukkan bahwa wahyunya tidak
kredibel, dan Muhammad tidak paham
geografi, dan Allah yang Maha Tahu
membiarkan umatNya mencari dalam
kegelapan.
Selain itu, dengan “mewahyukan” bahwa
Zakharia dijadikan Allah sebagai pemelihara
Maryam dalam mihrab, maka teman Muslim
menangkap seolah Zakharia dan Maryam itu
tinggal sekota di Yerusalem, selalu bertemu di
mihrab Baitul Magdis. Tidak! Maryam anak
desa, tidak tinggal dikota besar, melainkan di
Nazaret bersama dengan keluarganya dimana
ia sedang bertunangan dengan Yusuf dikota
yang sama.
Sedangkan Zakharia dan isterinya Elisabet
tinggal dikota lain didaerah pegunungan Yudea,
dan Maria yang justru segera melakukan
kunjungan kesana (Luk.1:39 dll). Bagaimana
mungkin Zakharia menjadi pemelihara atau
penafkah bagi Maria?
(2) Siapa “Ruh” Allah yang satu ini? Kenapa ia
harus tampil dengan cara meresahkan dan
menakutkan orang kudus yang dilawatinya?
Berkenaan dengan hakekat Ruh pewahyu ini,
rupa-rupanya pewahyuan awal kepada
Muhammad sempat kacau. Sebab ketika
berbicara dengan Maryam, maka Jibril-lah yang
diutus Allah sebagai komunikator-antara (ayat
17), namun ketika berbicara dengan Zakharia
maka Allah sendirilah yang berbicara langsung!
(lihat ayat 1s/d 15).
Ini kesalahan yang tak terperbaiki, mengingat
Maryam dimata Allah adalah nabiah dan
Ayatollah suci, mendapat panggilan dan posisi
tertinggi diantara semua wanita (Qs.3:42),
ketimbang Zakharia yang hanya imam/ nabi
biasa.
Kelak setelah hampir satu dekade berlalu,
kesalahan ini agaknya baru disadari
Muhammad sehingga oknum yang berdialog
dengan Zakhariapun diam diam diubahnya,
dari Allah menjadi ruh malaikat pula, lihat surat
Ali Imran 39: “Maka malaikat (Jibril) menyeru
Zakharia…”.
Kredibilitas wahyu tidak sama dengan bunglon-
wahyu yang selalu mengubah dirinya atas
alasan wahyu-susulan. Agar tidak melebar
persoalannya, kita teruskan saja dulu apa
adanya: “Ruh”Allah itu dikatakan merubah
dirinya menjadi laki-laki seutuhnya, dan ini
sempat membuat Maryam was-was dan takut
kalau-kalau lelaki ini bisa menjahatinya dikala
ia sendirian diperjalanan. Ketakutan ini tentu
wajar bagi perawan Maryam yang sendirian
ditempat asing, namun hal ini terlambat
diantisipasi oleh ruh yang melawatinya, karena
laki-laki yang muncul secara mendadak itu
tidak terlebih dahulu membuka salam
perjumpaan menurut tatakrama Yahudi, juga
tidak menyampaikan salam surgawi. Ruh itu
bahkan tidak memanggil nama Maryam untuk
suatu komunikasi yang seharusnya wajar dan
penuh kedekatan bagi orang yang memang
didekatkan Allah. Ruh juga tidak berpesan agar
Maryam jangan takut. Akibatnya Maryam jadi
sungguh keta kutan, lalu segera (mendahului
antisipasi ruh) mencari perlindungan Allah yang
Maha Pemurah (ay.18).
Sebaliknya Gabriel di Alkitab langsung
memberikan salam damai kepada Maria
menurut adat Yahudi. Bahkan Gabriel
menyampaikan salam perlindungan dan berkat
sorgawi dalam kalimat “Tuhan menyertai
engkau”, dan bukan membiarkan Maria sendiri
yang mencari perlindungan dalam
ketakutannya. Sekalipun Maria tegang dan
kaget, itu sama sekali bukan karena ancaman
dari keberadaan sosok Gabriel yang mungkin
bakal menjahatinya, melainkan ia was-was
terhadap isi salam yang terlalu dahsyat dan
ajaib, yang tak sanggup dicernakannya sendiri
(resapkan ayat 29). Tetapi tanpa menunggu
lebih jauh, Gabriel segera menyusulkan sapaan
peneduh dengan memanggil namanya secara
tepat, tanda ia tahu akan yang ghaib: “Jangan
takut, hai Maria, sebab engkau beroleh…”. Ini
meneduhkan dan meyakinkan Maria bahwa ia
beroleh kasih karunia Tuhan. Perhatikan bahwa
sapaan peneduh yang sama juga dilakukan
oleh Gabriel kepada Zakharia, yaitu: “Jangan
takut, hai Zakharia, sebab doamu telah
dikabulkan… “. Dan kedua hamba Tuhan inipun
memperoleh “suatu berkat ajaib” dari
Tuhannya yang melawat mereka!
Namun sebaliknya, tiga perangkat kata
keramat yang menandai kuasa dan otoritas
ilahiah ini justru terhilang dari mulut ruh “Jibril”:
Jangan takut—hai Maria/Zakharia —sebab
engkau beroleh/ dikabulkan … Padahal salam
peneduh yang kuat dan baku ini sungguh perlu
dihadirkan karena Tuhan tidak ingin
menempatkan utusanNya yang dari sorga
untuk dikeli rukan dengan roh pen-teror yang
menakutkan. Bandingkan dengan pende katan
Jibril yang kembali men-teror Muhammad
dalam perjumpaannya digua Hira, yang juga
dilakukan tanpa sapaan perkenalan.
Gabriel bukan hanya menyampaikan kabar
tentang Yesus, tetapi juga sekaligus memberi
insentif dan pujian langsung untuk Maria
pribadi, yaitu: “engkau yang dikaruniai, Tuhan
menyertai engkau”, dan disusul, “engkau
beroleh kasih karunia di hadapan Tuhan”. Ini
adalah pujian dan hormat ilahi yang sekaligus
memperlihatkan betapa harkat wanita tidak
bisa direndahkan oleh manusia.
Sebaliknya, Jibril samasekali tidak membawa
dari Allahnya insentif reward dan hormat
apapun kepada Maryam, kecuali menjalankan
tugas masinal. Kekurangan yang bersifat
kesalahan ini terpaksa kelak diper baiki oleh
Jibril dalam wahyunya di Medinah (Qs.3:42)!
(3) Maryam praktis tidak diberitahu siapa dan
apa peran khusus dari Sang Anak tersebut,
sehingga perlu-perlu kelahirannya harus
melalui keperawanan yang meng-aib-kan
dirinya. Wajar Maryam tidak yakin itu rahmat
Allah. Atas nama Allah, Ruh telah menetapkan
bahwa rahim Maryam yang perawan belia itu
akan mengandung seorang anak laki-laki yang
suci.
Tetapi tidak diterangkan siapa sosok dia
sesungguhnya, apa nama dan peran
dahsyatnya sehingga ia harus dilahirkan dari
rahim perawan dan tidak cukup dari rahim
normal seorang ibu!!
Keseluruhannya, “mahkluk alien” apakah yang
akan Allah turunkan kedalam rahimnya, dan
untuk kepentingan besar atau rahmat apakah
maka itu harus terjadi, agar Maria tidak
melihat kehamilannya sebagai bagian dari ke
aiban, melainkan kehormatan yang harus
disyukuri?
Jibril samasekali tidak meng-entertain
kerisauan Maryam yang maha-pokok ini.
Padahal Maryam pasti akan dihina, dikutuki
atau diusir, bahkan menurut hukum yang
berlaku, Maryam “bisa dirajam” karena
mengandung anak haram! Sungguh ruh/ “Jibril”
ini tidak sensitif terhadap isu pokok kenapa
Maryam harus dikorbankan begitu besar!
(4) Kepada Maryam juga tidak dijelaskan
bagaimana kehamilan virgin itu akan terjadi,
padahal itu justru dipertanyakan secara
spesifik oleh Maryam. Dalam Injil: “Bagaimana
hal itu mungkin terjadi, karena aku belum
bersuami?” Dalam Quran: “Bagaimana akan
ada bagiku seorang anak, sedang aku belum
pernah disentuh seorang laki-laki pun dan
tiadalah aku perempuan jahat”. Gabriel
menjawabnya sambil meluruskan kekeliruan
Maria akan konsep “anak” yang bukan
berdasarkan biologis/ kedagingan, “Roh Kudus
akan turun atasmu dan kuasa Tuhan Yang
Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu
anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut
kudus, Anak Tuhan”.
Sebaliknya, Jibril tidak mampu mengkoreksi
atau menjelaskan apa-apa kecuali meneruskan
kata-kata Tuhan, “Hal itu mudah bagiku”, dan
bahwa kehamilan itu sudah ditetapkan Tuhan
sebagai tanda dan rahmatNya!
(5) Maryam tidak diyakinkan, juga tidak diberi
peluang menampik “todongan” Ruh. Urusannya
telah ditetapkan Allah dan itulah final, sebagai
tanda bagi manusia dan rahmatNya.
Kekurangan terbesar dari komunikasi Allah
disini terlihat dari situasi akhir Maryam yang
tidak dalam posisi siap menerima, dan tidak
menyatakan rasa syukurnya atas ketetapan
Allah. Para kritikus berkata:
“Bila Anda sebagai Zakharia atau Elisabet tua
yang merindukan seorang anak, Anda tentu
setuju bahwa kehamilan Elisabet (yang
mandul itu) adalah suatu rahmat Tuhan kepada
hambanya (ayat 2). Namun bila Anda sebagai
anak dara Maryam, apakah kehamilan itu bisa
dianggap ’rahmat Tuhan’ hanya karena hal itu
didalilkan sebagai ketetapan Tuhan, tanpa
kejelasan-kejelasan, tanpa peyakinan akan
wujud kasih Tuhan? Itu lebih dekat kepada AIB
dan KUTUK.”
Kelak setelah bertahun-tahun berlalu, informasi
maha-penting yang masih ketinggalan untuk
diwahyukan itu — yaitu tentang nama dan
proses kehamilan perawan — baru dirasakan
sebagai sesuatu yang perlu disusulkan oleh
Muhammad di Medinah dalam surat yang lain
lagi (Qs.3:45).
Cicilan aneh yang sangat terlambat ini
menguatkan dugaan bahwa Nabi bu tuh
waktu untuk familiarisasi “kristologi” dan
mencari informasi dengar-dengaran lebih jauh
sebelum mengisi wahyu susulan. Seluruh
pembicaraan Ruh Allah ini tidak tampak
menghasilkan keyakinan bagi Maryam.. Tidak
tampak Maryam bersyukur atas pilihan Tuhan
keatas dirinya untuk melahir kan sang Anak.
Anda bayangkan bila Anda sendiri yang jadi
Maryam disaat itu!
KOMENTAR KRITIS TERHADAP PENDEKATAN
GABRIEL
(6) Siapakah Anak yang harus dilahirkan dari
seorang bunda perawan? Untuk apa
kandungan/ kelahiran Anak Ajaib ini harus
terjadi dalam rahimnya seorang dara-perawan,
dan tidak cukup dari hubungan suami isteri
yang saleh saja? Kalau hanya untuk
melahirkan laki-laki yang saleh dan tanda bagi
manusia (seperti yang dimaksudkan Quran),
kalau hanya itu saja — tentu bayi Isa tidak
usah khusus dilahirkan sebagai tambahan
terhadap kelahiran Yahya yang memang sudah
saleh dan bertanda ajaib dengan menerobos
kemandulan si ibu tua.
Bukankah itu sudah cukup untuk menjalani
peran dan fungsi-fungsi kenabian pada masa
itu? Namun ternyata peran Yesus tidak bisa
diwakil kan kepada Yahya, atau Muhammad,
atau siapapun manusia lainnya. Sebab ternyata
Gabriel menyebut status sang Anak ini jauh
melebihi anak manusia manapun.
Sebab Dialah yang disebutnya: Yesus yang
berarti Yahweh Penyelamat -berasal dari kata
Aramik “Yeshua”, dalam lafal Arab menjadi
Yesu/ Yasu, dalam lafal Greeka jadi “Iesous”
dan Indonesia Yesus.
Orang Kristen Arab menyebutnya Yasu’ al-
Masih, dan itulah Anak Tuhan Yang Maha
Tinggi, Kandungan dari Roh Kudus, Mesias
diatas tahta Daud, Raja atas kaum keturunan
Yakub, dan Kerajaan Sang Anak yang tak
berkesudahan!
Anak semacam itulah yang disebutkan oleh
Gabriel sampai dua kali berturut turut sebagai
Anak Elohim (ayat 32 dan 35) yang telah ada
sejak awal mula, datang dan keluar dari
Elohim (Yoh 8:42) untuk “dilahirkan” kebumi ini.
Itu adalah konfirmasi yang paling jelas akan
identitas dan peran keilahian sang Anak
sebagai “Putera Pewaris”, yang sekaligus
menafikan tuduhan islamik: “Allah beranak”
hasil kedagingan biologis!
Kita tahu, bahwa sekali Tuhan sendiri yang
memberi nama bagi seseorang, maka Tuhan
tidak bermain-main dengan nama itu. Itu
bukan nama sekedar sambil lalu atau
semacam harapan-harapan yang diseyogyakan
Tuhan mudah-mudahan akan terjadi bagi sang
anak, melainkan itulah “hakekat, keberadaan
dan fungsi” sang anak untuk apa dia
dinamakan! Ya, Yesus adalah “Yahweh yang
menyelamatkan”! Itu adalah Nama Ilahi” untuk
“sosok Ilahi”.
Kelak Yesus mengkonfirmasikan nama Ilahi ini
sampai dua kali pula keti ka Ia berkata kepada
Bapa sorgawi: “… yaitu nama-Mu yang telah
Engkau berikan kepada-Ku” (Yoh.17 ayat 11 dan
12). Jadi bukan saja sekedar nama yang Tuhan
berikan kepada Yesus, melainkan itu juga
adalah nama keilahian! Tetapi sungguh
memprihatinkan bahwa Nama dengan makna
dahsyat “Yahweh menyelamatkan”, itu
dihilangkan dan diganti menjadi ISA yang
kosong makna.
Jibril dan Muhammad jelas bukan pemilik atau
penguasa yang berotoritas atas nama tersebut,
jadi darimana beliau bisa berhak “me-nasakh-
kan” (menghapus dan menggantikannya,
Qs.2:106) nama keilahian Yesus yang begitu
dahsyat itu?!
Imam Al-Gazali berkata bahwa, “nama adalah
sebuah kata yang menunjukkan …. kalau
sesuatu yang dinamai tidak dipahami dari
namanya, maka hal itu tentu bukan
namanya” (Al-Asma’ Al-husna, p.27).
Maka Muhammad dan semua pengikutnya,
termasuk Al-Gazali, seharusnya mempunyai
kewajiban moral untuk menjelaskan kepada
dunia, kenapa nama YESUS – nama diatas
segala nama — dihapus dan digantikan dengan
nama ISA yang samasekali tidak menunjukkan
kemuliaan, tidak ada kebesaran, tidak
dipahami, dan tidak menunjukkan apapun itu?
Maka dalam kaidah Al-Gazali berarti itu bukan
nama bagi Yesus!
Bagaimanapun, keadilan Muslim yang
konsekwen (gigi ganti gigi – nama ganti nama)
harus menerima respon balik secara “tukar
guling”, sean dainya nama Muhammad juga
dihapuskan dan diganti dengan nama lain
seenaknya oleh orang kafir! Tidakkah itu
menyakitkan hati Muslim melebihi gambar
karikatur Muhammad dari Denmark yang
dianggap pelecehan terhadap Islam?
Namun kita tahu bahwa nama inilah yang
sangat ditakuti oleh ruh-ruh yang tidak jelas
(Mrk.3:11) dan karenanya harus disembunyikan
atau dinasakh-kan oleh ruh, jin, dan malaikat
gadungan, karena tahu bahwa mereka dapat
diusir demi nama dahsyat ini (Mrk.9:38), dan
“…setan-setan takluk kepada kami demi
namaMu”(Luk.10:17).
(7) Dapatkah Tuhan mengutus Gabriel untuk
menegaskan kepada Maria tentang “Anak
Elohim” (sampai 2 x ulang), lalu 6 abad
kemudian mengutus Jibril untuk
mengkoreksinya bahwa “Allah tidak beranak”?
Pada awalnya, baik Injil maupun Quran sama
mencatat bahwa Maria masih berpandangan
cara dunia dalam memahami konsep anak
yang akan dikan dungnya. Maka ia berkata
kepada malaikat : “Bagaimana hal itu mungkin
terjadi, karena aku belum bersuami?” (dalam
Quran: “Bagaimana akan ada bagiku seorang
anak, sedang aku belum pernah disentuh
seorang laki-laki pun dan tiadalah aku
perempuan jahat”).
Namun Gabriel segera meluruskan kekeliruan
Maria bahwa “konsep keanak an” itu bukan
bersifat kedagingan (walad), tetapi suatu
konsep inkarnatif ilahiah, dimana “Roh Kudus
akan turun atasmu dan kuasa Tuhan Yang
Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu
anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut
kudus, Anak Elohim”.
Jelas ini adalah sebutan sebagai Anak Tuhan
yang rohaniah, bukan anak dalam pengertian
badaniah! Bila tidak demikian, bukankah sang
Anak ini cukup dilahirkan dari hubungan
biologis Maria dengan tunangannya Yusuf yang
memang sebentar lagi akan saling menikah?
Kenapa Tuhan tidak menikahkan mereka saja
dengan resmi dan memberi tanda kelahiran
mujizat yang lain bagi Isa, misalnya demi
menghemat waktu, sang Anak langsung
menjadi besar sesaat setelah dilahirkan!?
Pernahkah teman Muslim merenungkan hal
yang sesederhana ini? Tidak ada alasan Tuhan
untuk berpetak-umpet meng-aibkan Maria
sambil menyesatkan miliaran jiwa orang
Nasrani karena kelahiran virgin ini, bila kehamil
annya sendiri hanya bersifat fisikal biologis dan
bukan karena inkarna si rohani!
Justru karena Gen DNA sang Anak adalah pula
gen BapaNya, maka kelahiran dengan
meminjam rahim perawan ini harus terjadi,
dan istilah “Anak Elohim” kembali ditegaskan
ulang: “…engkau akan mengandung dan akan
melahirkan seorang anak laki-laki dan
hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia
akan menjadi besar dan akan disebut Anak
Elohim Yang Mahatinggi”.
Istilah atau sebutan “Anak” adalah sangat
tepat dan harus digunakan karena Ia yang
Kalimatullah itu “di-nuzulkan”, “diturunkan”,
“dilahirkan”, “diperanakkan” secara inkarnatif
kedalam dunia seperti yang diwahyukan
dalam Injil!
Gabriel diabad kesatu, dan Jibril diabad ke 7
telah sama mengkorek sikan pikiran awal
Maria yang salah, yang berakibat mustahil ada
orang Nasrani maupun Muslim yang ngotot
menganut Yesus itu hasil kawin-mawin Tuhan
dengan seorang isteri.
Namun sungguh aneh bahwa “Jibril” kemudian
kembali membalikkan pemaham an konsep
kedagingan ke Anak-an (Yesus Anak) sebagai
tuduhan yang seolah dikenakan kepada orang
Nasrani, “Dia tidak beristeri dan tidak beranak”
“Bagaimana Dia (Allah) mempunyai anak
padahal Dia tidak beristeri?” “Maha Suci Allah
dari mempunyai anak” “Allah tidak beranak
dan tidak diperanakkan” (Qs. 72:3; 6:101; 4:171;
112:3 dll).
Namun apabila ini dituduhkan kepada orang-
orang Nasrani, maka wahyunya dipastikan
“salah sasaran”, karena semua orang Nasrani
yang justru sudah diingatkan oleh Gabriel
sampai 2x, mustahil menyembahi Allah yang
kawin-mawin dan beranak-pinak!
Yesus menyanggah “doktrin kawin-mawin
yang sesat” ketika berkata, ”Apa yang
dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa
yang dilahirkan dari Roh, adalah roh” (Yoh.3:6).
Mahasuci Allah dari mempunyai anak. Bejadlah
Allah demikian, bersama dengan orang-orang
yang menuduhNya!
Itu sebabnya Umar Tariqas menghimbau
kejernihan pengertian Muslim lewat satu
pertanyaannya yang sejuk: “Ya, kami orang
Kristen memang mengatakan ‘Yesus itu Anak
Tuhan’. Dan kami tahu itu disanggah oleh
Muslim.
Namun kami tidak tahu apa dugaan kalian
ketika mendengar kami berkata ‘Yesus itu
Anak Tuhan’? Menurut Anda ANAK TUHAN yang
macam apakah yang kami percayai
itu?” (Ismael Saudaraku, p.27).
(8) Kudusnya sang Anak bukan seperti
kudusnya para nabi Tidak dikosongkan Quran,
tetapi ketika Jibril berkata tentang “seorang
anak laki-laki yang suci”, maka teman Muslim
tampaknya hanya terbawa mengartikannya
secara umum.
Sebaliknya Gabriel memaknainya teramat
dalam sebagai KUDUS yang bukan kudus
dalam istilah etika umum, semacam saleh,
bersih, takut akan Tuhan, dekat dengan Tuhan
dll. Melainkan kudusnya Tuhan sendiri yang
Sang Kudus, suatu unsur dan sifat penuh
misteri, asing dan tidak dikenal bagi dunia
yang tidak kudus lagi.
Yaitu unsur “tanpa hakekat dosa dan tanpa
berbuat dosa”, yang hanya berasal dari “Zatnya
Tuhan sendiri”. Gelar dengan hakekat ini tidak
pernah bisa disandangkan kepada manusia.
Hanya Tuhanlah yang kudus dari diriNya, dan
tak satupun manusia itu kudus.
Kekudusan manusia hanyalah perolehan,
dalam batas-batas tertentu, yang dianggap
“kudus”.
Itu sebabnya seluruh nabi-nabi, termasuk
Muhammad, adalah orangorang yang walau
disebut saleh, namun tetap berbuat dosa dan
minta ampun kepada Allah (QS.40:55; 48:1,2).
Tidak demikian Yesus Al Masih yang bukan
saja tanpa dosa, tetapi bahkan berkuasa
mengampuni dosa (Mat.9:2,6).
(9) Maria tidak ditodong melainkan diminta
dengan ikhlas, dalam memahami wujud kasih-
anugerah Tuhan, yang berakhir dengan
pemberian diri secara sukacita Ruh (Jibril?)
tidak memberi peluang bagi Maryam untuk
menolak kehendak Allah, kecuali harus tunduk
dan taat atas urusan yang sudah ditetapkan
Allah (ayat 21).
Ini sebenarnya berlawanan dengan design
Allah bagi manusia sejak Adam diberi pilihan
bebas untuk mengharamkan atau
menghalalkan buah pengetahuan di Firdaus
dalam kehidupannya.
Jibril mengosongkan berita sukacita tentang
kehamilan isteri Zakharia dalam masanya yang
mandul, yang mestinya bisa meneguhkan
Maria karena kehadiran dua kehamilan ajaib
bersama dirinya.
Sebaliknya, Gabriel tidak memberlakukan
“ketetapan-besi” kepada Maria, melainkan
memberi pemahaman dan peneguhan langkah
demi langkah bahwa sang Anak yang akan
dikandungnya adalah Mesias, Anak Elohim
yang dihasilkan dari Roh Kudus.
Dan itu adalah kasih karunia yang Tuhan
nyatakan khusus kepada Maria, dan juga
kepada Elizabet yang tadinya mandul, namun
kini mendapatkan kehamilannya secara ajaib.
Perhatikan bahwa keterangan Gabriel itu
adalah nubuat-ganda, tentang 2 kelahiran ajaib
pada diri Maria (yang akan terjadi) dan Elisabet
(yang sedang terjadi yang Maria belum tahu
tadinya)! Ini sekaligus membuktikan bahwa
Gabriel membawa kuasa-nubuat ilahiah yang
membeda kannya dengan ruh-ruh halus lain
yang tidak mampu bernubuat – kecuali
menjiplak. Alhasil, semuanya berakhir dengan
penerimaan Maria, yang kini percaya, dan
setuju untuk memberikan seluruh dirinya
kepada Tuhan sesuai dengan kehendakNya,
dengan ucapan penuh syukur: “Jadilah padaku
menurut perkataan-Mu”.
Maria ditinggalkan dalam suasana hati yang
selesai, plong tanpa ganjalan. Istilah dewasa
ini, win-win solution! Dalam sukacitanya, Maria
segera melawat Elizabet, sanaknya,
dipegunungan Yehuda.
Dan Injil mengisahkan bahwa kelak ia
bersama tunangannya Yusuf pergi ke
Betlehem, dan disanalah Maria melahirkan
Yesus dalam sebuah kandang domba!
Sebaliknya Quran sangat kentara tidak tahu
apa-apa akan lokasi dan geografi yang
dibicarakan. Dikatakan, “dia (Maryam)
mengasingkan diri (seorang diri) dengan
kandungannya ke suatu tempat yang jauh”.
Bagaimana mungkin Maryam yang bukan
perempuan binal itu pergi seorang diri untuk
kedua kalinya berturut-turut?
Pelarian pertama dikatakan kearah timur tanpa
sebab, dan pelarian kedua kearah mana lagi?
Quran mendongengkan akhir kehamilannya
dengan kelahiran Isa “dibawah pohon korma”
dengan didahului keinginan untuk mati
sendirian dan dilupakan. Suatu keinginan yang
dimurkai Allah karena mencerminkan
ketiadaan iman, padahal ia dipilih karena
wanita yang paling beriman!
Jibril tak mampu lagi meneruskan kesudahan
kisahnya secara logis, kecuali “makin kacau”.
Kesimpulan Mati
Sekali lagi, benar bahwa Muhammad tidak
dikaruniakan pengetahuan tentang Ruh yang
mewahyuinya (melainkan sedikit), namun juga
benar beliau tidak terkaruniai pengetahuan
yang memadai tentang geografi, lokalisasi,
nama, motif/latar belakang dan spesifikasi dari
kisah Alkitab yang dipetiknya.
Apa yang disampaikan itu mirip dengan
legenda dramatis hasil dengar-dengaran yang
beredar bebas dari mulut kemulut. Para
sarjana cenderung berpendapat bahwa
kekurangan ini diakibatkan oleh ke-ummi-an
Muhammad, yang hanya mengandalkan
komunikasi lisan orang perorang, menghimpun
sekian banyak versi informasi yang banyak
simpang siur, dan diendapkan beberapa saat
dalam pencernaan dan refleksi spritualnya,
untuk dipilih versi yang dia anggap cocok
dengan sistim kepercayaannya.
Akibatnya, terjadilah distorsi informasi dan
ajaran Muhammad yang banyak terambil dari
“tradisi dan sekte-sekte Kristen” yang
memunculkan Anak Allah hasil kawin mawin,
“bagaimana Dia beranak, padahal Dia tidak
beristri”.
Ruh Jibril yang dikatakan sangat intim dengan
Muhammad selama 20-an tahun, ternyata
tidak memperkenalkan siapa dirinya dengan
semestinya.
85 Surat Makkyah tidak seayatpun
memunculkan nama Ruh ini. Itu baru terjadi
setelah 17 tahun Muhammad berwahyu-ria
dengan Jibril.
Kelahiran-virgin dari Isa hanya diakui sebagai
suatu magic-show (tanda) kepada dunia yang
tidak berdampak kepada keimanan atas
hakekat Isa yang sebenarnya, “Anak Ilahiah”.
Itu sebabnya “penciptaan” Isa didangkalkan
sama dengan Adam. Tragedi pembidahan
kristologi-islam diteruskan hingga nama dan
gelar surgawi dari Yesus Kristus itu dihapuskan
(dinasakh-kan) secara lancang, diganti nama
baru dengan ISA al-Masih, suatu nama dan
gelar yang maknanya dikosongkan samasekali
dari Quran!
Gabriel diabad kesatu dan Jibril abad-7 dan
Rohulqudus sungguh tak ada kesamaan
oknum. Jibril dikatakan mempunyai “600
sayap”, suatu kemewahan yang tidak dipunyai
oleh Gabriel Alkitab.
Quran dan Hadis tidak mempunyai solusi untuk
meng-elaborasi ketiganya. Maka datanglah
“pakar Islam” yang ramai-ramai memaksakan
ketiga oknum itu sebagai identik, demi
memudahkan masalah-liar yang tak terkontrol
ini untuk disederhanakan saja dari sudut
pandang Islam.
Kesamaan-semu antara narasi Gabriel dengan
Jibril hanya terjadi karena pendongengan ulang
dari Jibril yang dilakukan dengan menggeser
setting lokasi, pesan, dan nilai-nilai aslinya
Gabriel.
Namun berdasarkan maklumat kedua jenis
malaikat ini – andaikata kita menempati diri
sebagai Maria – maka tak ada keraguan kita
untuk “memilih dan percaya kepada Gabriel”
dan “menjauhi Jibril”.
Kita tidak akan memilih Ruh yang mengantongi
begitu banyak atribut ‘TIDAK’, yaitu:
-tidak jelas jati dirinya,
-tidak meyakinkan,
-tidak sensitif,
-tidak punya etika salam,
-tidak paham geografi dan details lokasi,
-tidak bermujizat,
-tidak bernubuat,
-tidak menentramkan

:

: