Muhammad: “Akulah Gembala Yang Diutus”; Yesus: “Akulah Gembala Yang Baik”

Posted on Februari 27, 2012

0


Salah satu buku yang sangat terkenal tentang Islam
adalah Sejarah Hidup Muhammad karangan MH.
Haekal. Di situ digambarkan mimpi dan firasat
Muhammad bahwa ia bakal menjadi seorang Nabi.
Dikatakan: “Yang menyebabkan dia (Muhammad)
lebih banyak merenung dan berfikir, ialah
pekerjaannya menggembalakan kambing sejak
dalam masa mudanya itu.” Dia menggembalakan
kambing keluarganya dan kambing penduduk Mekah.
Dengan rasa gembira ia menyebutkan saat-saat yang
dialaminya pada waktu menggembala itu. Di
antaranya ia berkata:
“Nabi-nabi yang diutus Allah itu gembala kambing.”
Dan katanya lagi: “Musa diutus, dia gembala kambing,
Daud diutus, dia gembala kambing. Aku diutus, juga
gembala kambing keluargaku di Ajyad.” (p.60)
Kita tidak tahu apa yang diketahui oleh Muhammad
mengenai makna “gembala” dalam era dan kisah
Taurat dan Mazmur (Zabur). Kita juga tidak tahu
apakah beliau tahu bahwa Alkitab membedakan
domba dan kambing, sehingga gembala bagi
keduanya juga tidak betul-betul persis sama,
khususnya dalam bobot proteksi dan care bagi domba
yang lebih pasrah tak berdaya ketimbang kambing.
Kita cuma bisa menduga-duga bahwa Muhammad itu
gembala upahan dari keluarga, dan bukan gembala
kambing milik sendiri atau dari orang tuanya. Status
itu juga dibedakan oleh Alkitab.
Seorang gembala jaman dahulu – jamannya nabi-nabi
Israel – tidak bisa dibandingkan dengan gembala yang
dikenal jaman sekarang. Dari seorang gembala
dituntut tanggung-jawab yang amat besar,
sedemikian sehingga fungsi gembala disamakan oleh
masyarakat kuno sebagai tugaskepala bani dalam
menuntun dan memerintah kaumnya.
Gembala itu harus mengenal setiap mata-air,
sumur, wadi dan sungai.
Dia harus tahu sifat airnya yang tenang untuk bisa
diminum secara aman, bukan air deras dimana hewan
tersebut mudah hanyut kalau terpeleset atau jatuh.
Gembala bahkan juga siap mencari sungai atau
menimba air sumur lain bagi dombanya di musim
kemarau. Ia memperhitungkan dimana masih
terdapat rumput, menurut musimnya. Ia harus
melindungi anak-anak domba yang belum dapat
berjalan jauh. Ia memelihara induk-induk domba yang
bunting atau yang sedang dalam masa menyusui.
Ia menolong domba yang sakit, terluka pada batu-
batu tajam dan duri, bahkan sakit apapun yang
menerpa dombanya. Ia menghindari agar jangan
seekor dombapun meninggalkan kawanan, baik
diperjalanan ataupun karena takut dengan kilat dan
guntur.
Gembala akan membela kawanan terhadap binatang
buas dan pencuri. Dengan tongkat yang panjang,
gembala menuntun kawanan domba, memberi tanda
maju, berbelok, atau berhenti. Ia menunjuk jalan dan
sekaligus memperingati domba yang mau
menjauhkan diri. Domba adalah aset miliknya yang
sangat khusus. Dianggap sangat bernilai bukan karena
harganya (secara materi), tetapi karena natur
gembala yang memang selalu bertanggung jawab
terhadap setiap dombanya secara sangat pribadi. Itu
sebabnya seorang gembala membelanya sampai
dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri.
Dalam pengibaratan seperti itulah Yesus melukiskan
dirinya sebagai Gembala yang Baik bagi manusia
yang digambarkan sebagai domba-dombanya. Dan itu
dibuktikannya dalam seluruh perjalanan kenabiannya.
Ia bukan gembala upahan. Disinilah kita melihat
bahwa ia adalah gembala yang berlainan dengan
Muhammad-gembala. Muhammad memimpikan
dirinya jadi nabi dengan mencoba mencocok-
cocokkan status gembalanya seperti Musa dan Daud.
Sesungguhnya pencocokan ini hanyalah pelipur lara
saja bagi anak muda yang memimpikan masa
depannya, karena ada jutaan orang-orang dahulu di
Timur Tengah yang memang kerjanya sebagai
gembala, dan yang selalu akan cocok bila dikait-
kaitkan secara umum.
Tetapi Yesus berkata secara khusus, “Akulah gembala
yang baik” dan Dia tidak melihat domba-domba nya
sebagai satu kawanan belaka, melainkan justru
mengenalnya satu per satu secara pribadi dengan
sebutan namanya masing-masing,
“Domba-domba mendengarkan suaranya
(gembalanya) dan ia memanggil domba-domba nya
masing-masing menurut namanya dan menuntunnya
keluar. Jika semua dombanya telah dibawanya keluar,
ia berjalan didepan mereka dan domba-domba itu
mengikuti dia, karena mereka mengenal
suaranya” (Yohanes 10:3-4).
Kenapa harus sedemikian pribadinya?
Itulah, karena natur dari seorang gembala yang baik
adalah tidak rela dan tidak mengizinkan satu
manapun dari dombanya hilang atau tersesat. Dan
Tuhan sesungguhnya jauh lebih bernatur mulia
ketimbang itu. Dia tidak seperti Allah SWT yang
sampai hati menyesatkan seberapapun jiwa berharga
dengan slogan: “Allah menyesatkan siapa yang Dia
kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang
Dia kehendaki” (Sura 14:4). Sebaliknya, Yesus berkata
untuk satu per satu jiwa:
“Siapakah diantara kamu yang mempunyai 100 ekor
domba, dan jikalau ia kehilanganseekor diantaranya,
tidak meninggalkan yang 99 ekor dipadang gurun dan
pergi mencari yang sesat itu sampai ia
menemukannya?” (Lukas 5:4). Sambil mengingatkan
kita:
“Bukankah manusia jauh lebih berharga dari pada
domba” (Matius 12:12).
Lebih jauh, Gembala yang Baik dikontraskan Yesus
dengan gembala upahan yang bagaimanapun tidak
akan mempunyai sense of belonging:
“Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik
memberikan nyawanya bagi domba-dombanya”,
sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan
yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika
melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba
itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan
mencerai-beraikan domba-domba itu. Ia lari karena ia
seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-
domba itu” (Yohanes 10:11-13).
Gembala yang baik bukan hanya bertugas untuk
menyelesaikan satu hari kerja, tetapi ia bertarung dan
siap berkurban nyawa bagi domba-dombanya. Dan
pernyataan berkurban-nyawa ini diulangi Yesus
sampai empat kali dalam satu pasal yang sama (yaitu
ayat 11, 15, 17, 18), dan beberapa waktu kemudian dia
membuktikannya pula secara mutawatir. Ini adalah
pernyataan tentang kurban-diriNya bagi penebusan
dosa manusia, tetapi yang dinafikan oleh satu-satunya
ayat (tanpa bukti) dari Muhammad yang membantah
kematiannya di atas kayu salib! (Sura 4:157).
Di tempat yang lain dalam Injil, Yesus terus-menerus
mengindikasikan kematian-kurbannya demi
membuktikan kebenaran akan kematiannnya,
sekaligus maha-kasihnya bagi domba-
dombanya,“Tidak ada kasih yang lebih besar daripada
kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk
sahabat-sahabatnya” (Yohanes 15:13). Dan kembali
Muhammad tidak memberi bukti bagaimana Allah itu
Mahakasih, tetapi tetap nekad berkata sebanyak 114
kali bahwa “Allah Maha-kasih dan Maha-penyayang”.
Akhirnya, Yesus masih menyampaikan satu
kepedulian yang sama untuk menggembalakan satu
kawanan domba lain yang tadinya tidak termasuk
dalam kandang yang sama. Itu adalah domba-domba
yang menolak diri Yesus sebagai ANAK DOMBA ALLAH
yang menghapus dosa manusia (Yohanes 1:29).
Mereka berseru mengikuti gembala upahannya: “Tiada
Tuhan selain Allah”. Mereka digembalai orang upahan
yang mengaku diutus oleh Tuhan, tetapi yang tidak
menghimpunkan domba-dombanya kembali
kehadapan Tuhan yang mengutusnya, melainkan
mencerai beraikan semuanya dalam kepastian masuk
ke neraka: “Dan tidak ada seorangpun dari padamu,
melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi
Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah
ditetapkan.” (Sura 19:71).
MARILAH KITA BERKATA FROM HEART TO HEART .
Bila Yesus berkata: “Akulah gembala yang baik”,
maka apakah kita bisa mengimbanginya dengan
berkata balik: “Tuhan, aku mau menjadi domba yang
baik, taat, dan mengikuti jalan yang kau buka dengan
tongkat gembalaMu”. Dalam hiruk-pikuk suara-suara
sumbang lainnya dari dunia, aku kini mendengar dan
mengenal suara penggembalaanMu yang benar:
“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan
berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan
kepadamu” (Matius 11:28).
Tagged as: Isa Almasih , Muhammad , Yesus
Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan
atas artikel ini, silahkan menghubungi kami dengan
cara klik link ini .
2 Comments
babyblue
November 14, 2010 • 6:27 pm
Yesus adalah gembala domba. Muhammad adalah
gembala kambing. Di akhir zaman nanti, Tuhan
Yesus akan memisahkan domba2 dari kambing2.
Domba2 di sisi kananNya (diselamatkan),
kambing2 di sisi kiriNya (dibuang ke neraka).
dear
December 14, 2010 • 10:39 pm
Kenapa manusia harus berhati lemah lembut spt
Domba? dan mengapa Tuhan menggambarkan
dirinya sbg Gembala yg baik? padahal domba
adalah hewan yg lemah dan ceroboh. Karena
ketika anak domba terpisah dari Tuannya, mereka
akan menjadi domba yg sesat, kebingungan, dan
rapuh. Sedang Tuhan seperti Gembala yg baik, yg
melindungi domba2 tersebut dr serigala,
menjaganya dari mara bahaya, dan
membimbingnya ke air teduh. ANAK DOMBA TIDAK
DAPAT BERTAHAN SENDIRI TANPA TUANNYA. Yesus
menginginkan kita mengandalkanNya, berpasrah
kepaNya, dan berharap kepadaNya saja, seperti
anak domba yg percaya kepada Tuannya.
Leave a Response
You must be logged in to post a comment.
More in ‘Dialog Injil – Alquran’
Pengampunan dan Kehormatan Dalam Alkitab dan
Qur’an
BAGAIMANAKAH ANAK IBRAHIM DITEBUS?
Injil Digugat Karena Hilangnya Nubuat Bagi “Rasul
Yang Akan Datang”
Abdullah Ibnu Mas’ud – Saksi Ketidakberesan
Mushaf Utsman
More in ‘Muhammad’
Injil Digugat Karena Hilangnya Nubuat Bagi “Rasul
Yang Akan Datang”
Pandangan Orang Kristen Tentang Nabi
Muhammad
More in ‘Muhammad-IsaAlmasih-Saya’
Al-Masih, Muhammad dan Saya (2) – Rasul Allah
atau Manusia yang Dirasulkan?
Al-Masih, Muhammad dan Saya (3) – Sang Diktator,
Raja Rasisme
Almasih, Muhammad dan Saya (4) – Terorisme dan
Intimidasi Dalam Islam
Kebenaran Tentang Muhammad : Kebenaran Yang
Membebaskan?
Bestseller Book: PUTRA HAMAS (SON OF HAMAS)
Buku mengenai kesaksian anak seorang pemimpin
Hamas, Mossab Hassan Youseb. Buku yang menarik
dan mendebarkan, namun memberikan perspektif
yang memerdekakan di dalam melihat konflik di
Timur Tengah, antara Israel-Palestina khususnya.
Kebenaran Yang Membebaskan
Dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan
kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yahya 8 :
32) “…Percayalah kepada Allah, percayalah kepada
Aku juga” – Al-Masih Isa (Yahya 14:1)
Pertanyaan Tentang Iman – Zakaria Boutros
Telaah dari Zakaria Boutros tentang berbagai isu yang
terkait dengan dialog Islam – Kristen dari sudut
pandang yang berbeda.
Posting Terbaru
Politikus Kuwait: Cegah Zina, Peliharalah Budak [18]
Dalam Quran
Buku Paling Banyak Diunduh : Yesus dan Muhammad
Sebuah buku tentang perbandingan antara Yesus dan
Muhammad yang ditulisoleh seorang mantan dosen
University of Al Azhar – Cairo dan PhD dalam
Pendidikan Kristen. Penulis adalah seorang Mesir yang
kemudian percaya kepada Yesus.
Translator
By N2H
Renungan Hari Ini : Keselamatan Karena Anugerah
”Anda meletakkan pengharapanmu pada syariah!
Tetapi engkau tidak pernah bisa melakukannya
dengan sempurna. Engkau tidak berdoa lima kali
sehari. Engkau tidak berpuasa secara konsisten
selama bulan Ramadhan. Engkau mengkalkulasi pajak
religiusnya dan sedekahmu untuk keuntunganmu
sendiri. Dan bagaimana hubunganmu dengan isterimu,
anak-anakmu dan para bawahanmu? Hukum yang
olehnya engkau meletakkan keyakinanmu, akan
menghakimi engkau. Karena syariah, maka tidak bisa
ditawar-tawar lagi, engkau akan mendarat di neraka.
Kami orang-orang Kristen tidaklah lebih baik
dibandingkan kalian orang-orang Muslim! Namun
demikian, kami membangun pengharapan kami
bukan berdasarkan hukum, tetapi berdasarkan
anugerah Yesus Kristus. Berdasarkan syariah, anak
akan dihakimi, tetapi berdasarkan anugerah Yesus,
kami akan diselamatkan!”

:

: