Bedah Quran An Nisaa:24

Posted on Maret 1, 2012

0


﴾ An Nisaa:24 ﴿
dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang
bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki
(Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai
ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu
selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri
dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina.
Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di
antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya
(dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan
tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang
kamu telah saling merelakannya, sesudah
menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

ﻛِﺘٰﺐَ ۖ ﺃَﻳْﻤٰﻨُﻜُﻢْ ﻣَﻠَﻜَﺖْ ﻣَﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟﻨِّﺴَﺎٓﺀِ ﻣِﻦَ ﻭَﺍﻟْﻤُﺤْﺼَﻨٰﺖُ ۞
ﺗَﺒْﺘَﻐُﻮﺍ۟ ﺃَﻥ ﺫٰﻟِﻜُﻢْ ﻭَﺭَﺍٓﺀَ ﻣَّﺎ ﻟَﻜُﻢ ﻭَﺃُﺣِﻞَّ ۚ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺍﻟﻠَّـﻪِ
ﺑِﻪِۦ ﺍﺳْﺘَﻤْﺘَﻌْﺘُﻢ ﻓَﻤَﺎ ۚ ﻣُﺴٰﻔِﺤِﻴﻦَ ﻏَﻴْﺮَ ﻣُّﺤْﺼِﻨِﻴﻦَ ﺑِﺄَﻣْﻮٰﻟِﻜُﻢ
ﻓِﻴﻤَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺟُﻨَﺎﺡَ ﻭَﻟَﺎ ۚ ﻓَﺮِﻳﻀَﺔً ﺃُﺟُﻮﺭَﻫُﻦَّ ﻓَـَٔﺎﺗُﻮﻫُﻦَّ ﻣِﻨْﻬُﻦَّ
ﻋَﻠِﻴﻤًﺎ ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻠَّـﻪَ ﺇِﻥَّ ۚ ﺍﻟْﻔَﺮِﻳﻀَﺔِ ﺑَﻌْﺪِ ﻣِﻦۢ ﺑِﻪِۦ ﺗَﺮٰﺿَﻴْﺘُﻢ
﴾ ٢٤ : ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ ﴿ ﺣَﻜِﻴﻤًﺎ‎

Kalimat ketiga dari QS 4:24:
Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati di antara
mereka, berikanlah kepada mereka maharnya,
sebagai suatu kewajiban. (QS 4:24)
Ayat di atas sedang membicarakan apa ya?
Hemmm…….
Apakah mahar itu diberikan belakangan sebagai
bayaran atas kenikmatan yang telah diberikan istri
kita? Hmm…..‎ Gang Dolly Mania.

Agar tidak bingung dan menerka-nerka, mari kita
selidiki asbabun nuzul ayat tersebut dari Literatur
Islam tertua.

:

:

:

:
Jadi, berdasarkan mushaf Ubai bin Ka’b yang dibaca
Abu Khuraib dan bacaan lisan Ibnu Abbas, kalimat
ayatnya seharusnya berbunyi:

Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati di antara
mereka sampai pada batas waktu yang ditentukan,
berikanlah kepada mereka maharnya, sebagai suatu
kewajiban. QS 4:24

Lalu siapakah yang telah menghapus kalimat “sampai
pada batas waktu yang ditentukan” dari dalam ayat
tersebut?

Jawabannya ada di sini:

:

:
Jadi, kalifah Umar tampaknya sebagai orang yang
patut dicurigai sebagai oknum yang menghapus kata-
kata tersebut, karena dia tidak menyetujui nikah
mut’ah, yang kemudian dilanjutkan oleh kalifah
Usman dengan membakari mushaf-mushaf untuk
menghilangkan jejak.

Inilah kelicikan Islam. Namun
kita beruntung karena ternyata masih ada beberapa
mushaf yang lolos dari pembakaran, yaitu mushaf
milik Ubai bin Ka’b.
Dihapusnya kata-kata “sampai pada batas waktu
yang ditentukan” dari dalam kalimat ketiga ayat 24
itu menyebabkan makna kalimat tersebut menjadi
kabur dan membingungkan.

Kesimpulan kita terhadap ayat tersebut adalah:

Kalimat ketiga dalam ayat surat An-Nisa (QS 4): 24 itu
ternyata adalah tentang nikah mut’ah, yaitu kawin
kontrak, di mana laki-laki dan perempuan terikat
dalam hubungan suami-istri hanya sampai pada batas
waktu tertentu yang telah disepakati bersama dalam
akad. Setelah lewat waktu tersebut, keduanya
menjadi bebas dan bukan suami-istri lagi.

Kalau sekarang kaum sunni mengatakan nikah Mut’ah
sudah dibatalkan, maka logikanya, bagaimanakah
ayat Alquran bisa dibatalkan oleh hadist?

Tidak ada satupun ayat dalam Alquran yang
memansokh nikah mut’ah kecuali ucapan Muhammad
yang terekam dalam hadist. Manakah yang lebih
tinggi hukumnya: Firman Alloh ataukah Perkataan
Muhammad?

Tapi di topik ini bukan itu yang saya persoalkan,
melainkan persoalan “RAIBNYA BEBERAPA KATA
DALAM ALQURAN”, di mana hal itu menjadi bukti
bahwa Alquran tidaklah semurni dugaan kita selama
ini.

Kita menjadi sadar, bahwa Alquran, sebagaimana
buku-buku biasa pada umumnya, tidak luput dari
“jamahan” orang-orang yang berkuasa karena ada
unsur kepentingan, baik untuk menyembunyikan
makna sesungguhnya dari suatu ayat, maupun untuk
maksud lain.

Kadang agar ayat-ayat itu terkesan suci, maka
dihapuslah beberapa kata yang dianggap dapat
merusak kesan suci tersebut.
:
Jadi di situlah kebohongan Islam semakin sempurna,
ketika Muhammad dahulu tidak mampu
menyembunyikan kebobrokannya di muka umum,
lambat laun kebobrokan perilaku dan ajaran-
ajarannya tertutupi lewat pengikisan demi pengikisan
(seperti kasus raibnya beberapa kata dalam Quran)
dan polesan-polesan karangan fiksi agar KOTORAN
KUCING berubah jadi EMAS MURNI.

MONGGO SILAHKAN DIGANYANG…………

:

: