Inilah akibat pengaruh Islam kepada kita, sehingga kita memiliki logika semprul

Posted on Maret 17, 2012

0


: Inilah akibat pengaruh Islam kepada kita, sehingga kita memiliki logika semprul.
:
:Kalau kita yang sudah punya istri ini, tertarik lagi dengan wanita lain, kemudian kita bersebadan dengannya, kita disebut selingkuh atau menyeleweng.
:Tapi kalau kita nikahi wanita tersebut, maka kita tidak lagi disebut selingkuh atau menyeleweng.
:
:Coba, logika semprul seperti ini kenapa tidak kita sadari?
:
:Bayangkan saja, bagaimana kalau istri kita juga melakukan SIASAT yang sama?
:
:Dia jatuh cinta dengan pria lain, dan ingin bersebadan dengan pria itu. Lalu agar tidak dianggap selingkuh/menyeleweng, dia menikah dengan pria tersebut.
:Bagaimana perasaan hati kita? Apakah kita tidak lagi menganggapnya selingkuh karena dia sudah lakukan ritual “nikah” dengan pria lain?
:
:Sudah berapa banyak bukti-bukti ajaran Islam yang telah membuat otak kita menjadi kucluk?
:Perlu bukti apa lagi, supaya kita sadar bahwa islam itu bukan agama dari Tuhan?
:
:
:Memperkosa pun halal, asal dinikahi dulu.
:
:Seorang aparat keamanan Iran tidak dapat menyimpan rahasia tugasnya karena selalu dibayangi rasa bersalah, lalu dia mengungkapkan sebuah kebusukan pemerintahan Iran selama ini kepada seorang wartawan freelance yang kemudian diterbitkan secara eksklusif di suratkabar The Jerusalem Post edisi 19 Juli 2009.
:
:Salah satu portal berita Indonesia, InilahCom, mengutip berita ini antara lain: “Mereka dipaksa menikahi tahanan perempuan yang masih perawan pada malam hari sebelum eksekusi. Kemudian mereka diwajibkan memerkosa para perempuan itu sebelum mereka memenuhi syarat untuk eksekusi. Sebab di Iran, eksekusi mati tidak boleh dilakukan terhadap perempuan yang masih perawan. Sehingga pemerintah yang dikendalikan pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pun memutuskan demikian.” Judul yang dipakai InilahCom: Iran sahkan perkosaan sebelum eksekusi mati?
:
:InilahCom sendiri — seperti kebiasaan hampir semua situs berita Indonesia — tidak membuat tautan ke artikel Jerusalem Post yang dikutip itu, hanya disebutkan nama korannya, dan kutipan beritanya pun relatif pendek. Karena sangat penasaran, sekaligus geram, Blog Berita membuka situs The Jerusalem Post dan mencari berita itu. Ketemu, dengan tanggal terbit 19 Juli 2009, di bawah judul “I wed Iranian girls before execution.”
:
:Wartawan freelance yang menulis berita eksklusif ini bernama Sabina Amidi, dia sudah sering mengirim artikelnya ke suratkabar The Jerusalem Post. Blog Berita mengutip inti kisahnya sebagai berikut dari koran Jerusalem Post.
:
:Sungguh sebuah wawancara yang mengejutkan, secara blak-blakan mengungkap ketidak-manusiaan rezim agama Iran di bawah pemimpin tertinggi Ali Khamenei. Wawancara eksklusif ini dilakukan lewat telepon dengan anggota keamanan sukarela Basiji yang meminta namanya tidak ditulis, dan wawancara ini diatur oleh sumber terpercaya yang juga tidak bisa diungkapkan identitasnya.
:
:Basiji adalah kesatuan polisi-sipil yang dibentuk pada 1979 oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini. Basiji berada di bawah Iranian Revolutionary Guards, dan mereka loyal pada penerus Khomeini, yaitu Khamenei.
:
:Ditanya wartawan bagaimana awalnya sampai dia bisa menjadi anggota Basiji, dia menjawab bahwa ibunyalah yang membawanya bergabung dengan pasukan Basiji. Ketika berusia 16 tahun, “Aku dibawa ibu ke markas Basiji dan ibu memohon supaya mereka menerimaku menjadi anggota. Ibu mengatakan pada mereka, aku tidak punya masa depan yang cerah. Ibuku tidak ingin aku terlibat narkoba dan menjadi berandalan di jalanan. Aku tidak punya pilihan.”
:
:Lalu dia menjelaskan, selama ini di pasukan Basiji, dia termasuk berprestasi dan mendapat penghargaan dari atasan. Sampai kemudian pada usia 18 tahun dia diberi kesempatan untuk menikahi tahanan wanita yang masih perawan lalu memerkosa mereka sebelum dieksekusi mati. Pernikahan kilat itu dilakukan satu malam sebelum hari eksekusi; tujuan pernikahan semata-mata untuk melegalkan hubungan seksual.
:
:“Gadis-gadis tahanan itu dipaksa harus melakukan hubungan seksual dengan kami para petugas penjara. Aku sangat menyesal, walaupun pernikahan itu resmi.”
:
:“Mengapa kau menyesal, kan sudah resmi menikah?” tanya wartawan.
:
:“Karena sesungguhnya wanita itu lebih ketakutan saat malam pernikahan daripada hari eksekusi besoknya. Setiap diperkosa, mereka selalu melawan, jadi kami petugas perlu memasukkan pil tidur dalam makanan mereka. Pada besok paginya, di hari eksekusi mati, mereka tidak punya ekspresi apa-apa, kosong. Mereka terlihat seperti ingin segera mati.”
:
:”Aku masih ingat bagaimana mereka menangis dan menjerit setelah pemerkosaan selesai…. Aku tidak akan pernah lupa bagaimana seorang gadis mencakar wajah dan lehernya sendiri….”
:
:saya pernah dengar kisah wanita yang di perkosa, si pemerkosa mengucapkan Ijab kabul sebelum melakukan niatnya.
:pernah ditayangkan di TV, lupa nama stasiunnya. menurut lokasi ada di daerah Bandung. yang korban Wanitanya Mahasiwi IKIP.
:
:sebenernya Kisah Suami Cici paramida juga bisa di jadikan Contoh Selingkuh Islami.
:
:apalagi yang ada di kawasan Puncak, Cafe ber-nuansa Arab menawarkan Kawin Kontrak(wisata sex-islami)
:
:
:SEKS BEBAS PUN HALAL, asal sebelum bersenggama, “nikah” dulu
:
:Berita Iran
:Kawin Kontrak untuk Atasi Seks Bebas
:
:Sumber:
:Jawa Pos, 3 Juni 2007, hal. 5 (Berita Internasional) – kolom Problema Remaja: “Atasi Seks Bebas, Sarankan Nikah Mut’ah”
:
:TEHRAN – Menghadapi kehidupan remaja yang kian permisif atas perilaku seks bebas, Menteri Dalam Negeri Iran Mostafa Por Mohammadi mengusulkan pemberlakuan nikah mut’ah (kawin kontrak). Dengan demikian, generasi muda Iran tidak akan terjebak dalam hubungan seks di luar nikah.
:
:”Kita akan menghadapi berbagai masalah jika kita tidak segera merespon kebutuhan seks generasi muda,” kata Mostafa seperti yang dikutip harian Iran Kargozaran kemarin. “Islam punya jawaban atas segala masalah dan nikah mut’ah merupakan jawaban atas masalah tersebut (seks bebas),” jelas Mostafa saat menghadiri sebuah konferensi di Qom, Iran.
:
:Mostafa meminta beberapa pihak yang terkait mempelajari masalah tersebut dan segera menjadikannya kebijakan pemerintah. “Kita tidak usah takut mempromosikan pernikahan sementara di negara yang diatur dengan perintah Tuhan,” tegasnya. Praktek yang sama juga bisa dijadikan solusi untuk mengatasi kian meningkatnya prostitusi di jalanan Iran beberapa tahun terakhir.
:
:Kawin kontrak membolehkan perempuan dan laki-laki menikah dalam waktu tertentu. Biasanya antara satu jam hingga 99 tahun. Namun, praktek yang dalam bahasa Iran disebut Sigheh itu banyak ditentang berbagai kalangan. Pasalnya, kawin kontrak dianggap sama saja dengan prostitusi terselubung. Kenyataannya, kawin kontrak juga masih menjadi perdebatan di negara-negara Islam lainnya.
:
:
:Turis Arab Serbu Puncak, Musim Kawin Kontrak Dimulai
:
:KOMPAS/DANU KUSWORO
:Sabtu, 2 Mei 2009 | 16:41 WIB
:
:BULAN Mei ini kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, bakal dibanjiri turis asal Timur Tengah, terutama dari Arab Saudi, Irak, dan Iran. Mereka biasanya menghabiskan waktu liburan di sana hingga tiga bulan berikutnya.
:
:Selama musim liburan tersebut, para turis tersebut tinggal di sejumlah hotel dan wisma di daerah Tugu Selatan dan Tugu Utara, Kecamatan Cisarua. Situasi ini selalu terjadi setiap tahunnya, sehingga warga setempat kerap menyebutnya sebagai ‘Musim Arab’.
:
:”Mereka selama ini tinggal di daerah Warungkaleng, Tugu Utara. Di sini juga ada wilayah yang dinamakan perkampungan Arab,” kata Dede (45), warga Kampung Sampai, Tugu Utara, Kamis (23/4).
:
:Dipaparkan, meskipun musim Arab baru akan dimulai Mei, tapi beberapa bulan sebelumnya sudah banyak vila, wisma, dan hotel kelas melati yang sudah dipesan. Bagi warga setempat, membanjirnya turis asal Timur Tengah membawa berkah tersendiri. “Selain tempat penginapan penuh, rental mobil juga laku,” kata Dede.
:
:Menurut Risman, warga lainnya, turis Arab yang berlibur di kawasan Puncak bisa menghabiskan uang hingga miliaran rupiah. Untuk berbelanja, makan, minum, transportasi, dan sejenisnya turis tersebut bisa menghabiskan Rp 3-5 juta per hari. “Mereka biasanya datang secara berkelompok, ” tutur seorang pedagang rokok di kawasan Kampung Sampai ini.
:
:Di musim Arab ini, warga pun memanfaatkannya dengan membuka usaha makanan asal Timur Tengah. Pasalnya, turis Arab kurang begitu suka dengan makanan Indonesia. “Mereka lebih suka makanan atau minuman asli negaranya, makanya di sini banyak toko makanan dan restoran dengan menu yang bertuliskan Arab,” ujar Risman.
:
:Sekretaris Himpunan Pemandu Indonesia (HPI) Kabupaten Bogor Teguh Mulyana, mengatakan, musim Arab juga membawa berkah bagi para pemandu wisata. Namun, para guide tersebut tidak dibekali dengan standar seorang pemandu yang profesional, sehingga justru ada pemandu yang merugikan turis tersebut. “Banyak warga yang fasih berbahasa Arab kemudian menjadi guide, termasuk menjadi penunggu vila,” kata Teguh Mulyana.
:
:Rp 5 juta
:Namun, katanya, tidak sedikit turis asing yang berperilaku nakal selama berlibur di kawasan Puncak. “Turis Arab rata-rata nakal. Sebagiannya sering ‘jajan’ atau memesan perempuan. Dan sebagian yang lain ada saja yang melakukan kawin kontrak dengan warga sekitar, dengan biaya antara Rp 5 juta sampai Rp 10 juta. Itu baru mahar, belum kebutuhan sehari-hari lainnya yang pasti dicukupi oleh si turis itu,” ujarnya.
:
:Ketika dihubungi, Kapolsek Cisarua AKP Hepi Hanafi mengatakan, keberadaan turis Timur Tengah tidak hanya memberikan berkah bagi warga sekitar, tapi juga bisa menimbulkan masalah. Misalnya, memunculkan aksi kriminalitas. “Untuk itu, kami mengimbau kepada warga sekitar, khususnya para pemilik warung atau pemilik vila, untuk tetap selektif dalam melayani wisman Arab ini,” katanya.
:
:”Soal kawin kontrak juga kerap dijadikan tameng untuk menyalurkan hasrat seksnya. Maka dari itu, kita sudah mulai menggelar razia dan memperketat pengawasan terhadap perilaku para wisman Arab tersebut,” imbuh Hepi. (Soewidia Henaldi)
:
:Sahih Bukhari: Volume 5, Book 59, Number 459:
:
:Dikisahkan oleh Ibn Muhairiz:
:Aku masuk ke dalam mesjid dan melihat Abu Khudri dan lalu duduk di sebelahnya dan bertanya padanya tentang coitus interruptus (Al-Azl). Abu berkata, “Kami pergi bersama Rasul Allah untuk Ghazwa (penyerangan terhadap) Banu Mustaliq dan kami menerima tawanan2 perang diantara para tawanan perang dan kami berhasrat terhadap para wanita itu dan sukar untuk tidak melakukan hubungan seksual dan kami suka melakukan coitus interruptus (=membuang sperma di luar vagina). Maka ketika kami bermaksud melakukan azl/coitus interruptus kami berkata: “Bagaimana kami dapat melakukan coitus interruptus tanpa menanyakan Rasul Allah yang ada diantara kita?” Kami bertanya padanya tentang hal ini dan dia berkata: “Lebih baik kalian tidak melakukan itu, karena jika jiwa (dalam hal ini jiwa bayi) manapun (sampai hari Kebangkitan) memang ditentukan untuk menjadi ada, maka jiwa itu pun akan ada.’”
:
:Sahih Bukhari: Volume 9, Book 93, Number 506:
:Dikisahkan oleh Abu Said Al-Khudri:
:Ketika dalam peperangan dengan Bani Al-Mustaliq, mereka (tentara Muslim) menangkap tawanan2 wanita dan ingin menyetubuhi wanita2 itu tanpa membuat mereka hamil. Maka mereka (tentara Muslim) tanya pada Nabi tentang azl/coitus interruptus …
:
:
:Muslim, untuk membela kelakuan para pengikut Muhammad tersebut, kerap mengarang alasan:
:MEREKA DINIKAHI DULU SEBELUM DI-AZL.
:
:Muslim pikir, dengan alasan seperti itu maka Muhammad dan para pengikutnya akan bebas dari tuduhan memperkosa maupun berzinah.
:
:Muslim tidak berpikir, kalau mereka sedang membuktikan bahwa otaknya katrok alias IDIOT , karena tidak menyadari kalau “nikah” itu telah dijadikan alat untuk melegalkan PERBUATAN JAHAT.
:
:Yang namanya selingkuh tetap selingkuh.
:Zinah tetap zinah, atau memperkosa tetap memperkosa.
:Sungguh DUNGU kalau kita beralasan: Khan sudah dinikahi!
:
:Bagaimana kalau istri kita, suatu ketika didatangi perampok, lalu istri kita diperkosa oleh perampok tersebut. Dan sebelum diperkosa, istri kita dinikahi dulu oleh sang perampok. Apakah kita juga akan berpandangan: “Itu halal, karena istri sudah dinikahi sebelum diperkosa?”
:
:Apakah kita yang masih muslim masih tidak berani mengakui,
:Islam itu bikin kita jadi Bajingan Bejad?
:Duladi
:Kecanduan
:
:
:
:Tidur dengan suami orang pun halal, asal “nikah” dulu
:
:Koran Surya edisi Selasa, 28 Juli 2009
:
:
:
:Bojonegoro – SURYA
:
:SEJUMLAH mahasiswi di Bojonegoro dan Tuban ditengarai menjadi istri simpanan tanpa adanya ikatan perkawinan yang sah. Sebagian besar praktik itu dilakukan ketika mereka masih duduk di bangku kuliah, dan berakhir setelah yang bersangkutan meraih sarjana.
:
:Alasan para mahasiswi itu bermacam-macam. Namun, alasan yang paling dominan adalah untuk membiayai kuliah. Dengan menjadi istri simpanan atau semacam istri kontrak, mereka mendapat biaya hidup secara tetap setiap bulan dari sang suami.
:
:”Secara agama kami tidak melanggar. Kami kawin siri,” tutur seorang mahasiswi ketika ditemui Surya beberapa saat setelah keluar dari sebuah kampus perguruan tinggi di Bojonegoro, pekan lalu.
:
:Wanita yang menolak disebut jatidirinya itu mengakui, dia dengan suaminya nikah siri di depan oknum petugas Departemen Agama (Depag) setempat. Ia terus terang tidak mengharapkan perkawinan secara sah sesuai undang-undang perkawinan karena ia tahu suaminya sudah berkeluarga. Di tempat terpisah, seorang lelaki berusia 45 tahun bersedia bercerita panjang lebar tentang hubungan yang dijalaninya dengan seorang mahasiswi yang sedang kuliah di Bojonegoro. “Dia istri muda saya. Tapi, hanya sebatas nikah siri,” aku pengusaha pertambangan ini sambil mewanti-wanti agar namanya tak dikorankan karena khawatir istri pertamanya yang sah tahu hal ini.
:
:Menurut bapak tiga anak ini, pertama kali ia bertemu dengan si mahasiswi tersebut sekitar satu tahun lalu. Ketika itu, ia dikenalkan salah seorang temannya dari Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, yang belakangan diketahui juga punya istri simpanan yang masih kuliah.
:
:”Saat pertama dikenalkan, saya sama sekali tidak mengira kalau wanita yang dibawa teman saya itu adalah istri mudanya. Saya pikir itu anak buahnya,” kisahnya.
:
:Berawal dari pertemuan tersebut, ia dapat cerita banyak dari sang teman tersebut. Termasuk, wanita yang baru dikenalkan kepadanya juga mengaku siap untuk ikut menjalani hubungan dengannya seperti yang sedang dilakoni oleh temannya itu. “Karena syaratnya tidak terlalu berat, saya akhirnya bersedia,” sambungnya.
:
:Diceritakan, sejak awal mereka sudah berkomitmen bahwa harus menikah siri terlebih dulu sebelum berhubungan seperti layaknya suami-istri. Hal itu lantaran si wanita tidak mau hubungan yang mereka lakukan menjadi sebuah perzinahan. Atau gampangannya, mereka ingin hubungan suami-istri itu tidak melanggar agama.
:
:Selanjutnya, si lelaki berkewajiban memberi nafkah berupa biaya hidup sehari-hari selama sang wanita menjalani masa kuliah dan membayar semua biaya kuliah yang dibutuhkan si wanita. Sedangkan pertemuan mereka, disepakati dua sampai tiga kali dalam seminggu. Itupun dilakukan di hotel yang biayanya juga ditanggung sang suami.
:
:Sejak awal berhubungan, mereka sudah berkomitmen tidak ada ikatan yang abadi dalam hubungan ini. Si wanita rela meski lelakinya sudah beristri dengan syarat setelah masa kuliahnya lulus, hubungan terputus dengan sendirinya. Atau jika memang sudah tidak ada kecocokan mereka bisa cerai sewaktu-waktu.
:
:”Dia kan ingin meniti karir untuk masa depannya. Jadi, saya juga bersedia menjalankan perjanjian itu. Yang penting, istri dan keluarga saya tidak tahu tentang semua ini,” ungkap lelaki asli kelahiran Tuban ini.
:
:Sejak saat itu, mereka berdua sudah menjalani hari-hari sebagaimana yang disepakati. Setelah melaksanakan akad nikah secara agama yang disaksikan salah satu oknum dari Depag Bojonegoro di dalam sebuah hotel, keduanya menjalani hidup sebagai suami istri terselubung.
:
:Dalam menjalani hubungan pun mereka sepakat tidak mengganggu jam kuliah atau jam kerja si lelaki. Selain berhubungan rutin di hotel, saat masa liburan juga biasanya diselingi dengan rekreasi ke luar kota.
:
:Banyak Istri
:
:Seorang lelaki lainnya, sebut saja Fadli, usia 40-an tahun, mengaku saat ini memiliki dua istri simpanan yang masih kuliah di Bojonegoro. Anehnya, keduanya tidak saling mengenal.
:”Saat ini saya punya dua istri (mahasiswi simpanan). Dua-duanya masih kuliah di perguruan tinggi swasta,” ujar Fadli sembari menenggak secangkir kopi yang sudah terhidang di depannya.
:
:Dua mahasiswi itu, akunya, yang satu dinikahinya secara siri sekitar satu tahun lalu, dan satunya lagi baru beberapa bulan belakangan. Namun, keduanya tidak tahu satu dengan lainnya. “Mereka tahu kalau saya sudah punya istri dan anak. Tapi, memang seperti itu, biasa para mahasiswi itu mau saja yang penting dinikahi secara siri dan diberi biaya hidup setiap bulan,” akunya.
:
:Dikisahkannya, saat itu ia menikahi sang mahasiswi di sebuah hotel dengan mengundang seorang oknum petugas dari Depag. Dalam pernikahan tanpa selembarpun surat sebagai legalitas tersebut, ia memberikan mahar Rp 300.000 sesuai permintaan sang isri. Sedangkan petugas tadi juga diberi sejumlah uang sesuai kesepakatan.
:
:”Setiap bulan saya memberi jatah uang Rp 750.000 untuk biaya kos dan kebutuhan sehari-hari kepada istri saya. Selain itu, saat dia butuh bayar uang kuliah saya harus menyiapkannya,” ungkapnya.
:
:Fadli mengaku sudah lima tahun lebih memiliki istri simpanan mahasiswi di Bojonegoro dan kalau dihitung, jumlahnya sudah mencapai 15 orang. “Dua istri simpanan saya saat ini adalah yang ke-14 dan ke-15. Itu terlepas dengan istri saya yang sah di rumah. Tapi jumlah itu tidak secara bersamaan. Ada yang putus karena memang sudah lulus kuliah dan ada yang minta cerai karena memang sudah merasa tidak cocok lagi,” ujarnya.
:
:Siapa saja mahasiswi yang rela dijadikan istri simpanan tersebut? Fadli dan beberapa temannya sepakat tidak menyebutkan identitas mereka. Hanya dikatakan, bahwa para mahasiswi yang rela menjalani hubungan semacam ini sebagian besar adalah mereka yang berasal dari keluarga pas-pasan. Karena punya cita-cita tinggi dan harus lulus kuliah mereka memilih jalan ini dengan pertimbangan, tidak melakukan perzinaan tapi tetap bisa menyelesaikan kuliahnya.
:
:Praktik kawin kontrak juga banyak terjadi di Tuban. Bahkan, selama satu tahun terakhir ada tiga orang mahasiswi yang berani secara terang-terangan mengakui dan menceritakan semua kisahnya kepada Koalisi Perempuan Ronggolawe (KPR), sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) perempuan yang bermarkas di kota Tuban.
:
:Menurut Direktur KPR, Nunuk Fauziah, pihaknya sudah banyak mendengar kabar tentang keberadaan para mahasiswi yang rela menjadi istri simpanan untuk membiayai hidup dan kuliahnya. “Kalau secara resmi baru ada tiga mahasiswi yang mau terbuka soal itu kepada kita. Namun, dari penelusuran dan pengamatan kami di sejumlah kampus, banyak sekali mahasiswi yang terjebak pada praktik seperti itu,” kata Nunuk. “Bahkan, banyak juga yang hanya menjadi wanita simpanan, tanpa ikatan nikah siri,” sambungnya.
:
:Dikatakan, para mahasiswi tersebut adalah mereka yang kehidupannya pas-pasan. Dan selain kebutuhan yang terus menekan, mereka ini juga kebanyakan terkena dampak pergaulan lingkungan sekitar. “Yang sempat curhat ke kami, dia mengaku menyesal karena baru saja diputuskan atau ditinggalkan oleh pasangannya. Dia meminta pertimbangan bagaimana langkah yang harus ditempuh menghadapi kondisi semacam ini. Saat pertama kali terjun ke dunia itu, dia mengaku diajak salah satu temannya hingga akhirnya dia larut dalam dunia ini,” ungkapnya.
:
:Diceritakan pula, ada beberapa dari para mahasiswi itu yang sampai hamil kemudian ditinggalkan begitu saja oleh lelakinya. Sebagian besar yang telah ditinggalkan oleh pasangannya kemudian tidak dapat suami yang baru, para mahasiswi ini nekat mencari uang dengan cara tidak benar seperti menjadi wanita panggilan.
:
:Karena itu, kata Nunuk, pihaknya selalu memberi masukan kepada para mahasiswi yang terjebak dalam dunia ini untuk segera mengubah pola hidup dan meminta pertanggungjawaban secara resmi kepada lelakinya. Alasannya, kalau hanya dengan hubungan nikah siri mereka tidak akan punya hak apa-apa. Termasuk ketika ditinggalkan juga mereka tidak bisa menuntut sama sekali.
:
:Secara terpisah, Kepala Divisi Advokasi P3A (Pusat Pelayanan Perempuan dan Anak) Pemkab Bojonegoro Umu Hani mengaku sempat mendengar adanya praktik kawin kontrak. “Pernah ada, tapi waktu itu bukan mahasiswi dari Bojonegoro, melainkan dari luar daerah,” katanya. “Setelah kita tanya, dia mengaku bahwa kehamilannya dari hubungan nikah siri dengan pasangan lelakinya,” tambahnya.
:
:Quran menghalalkan free sex dengan budak dan tawanan perang.
:
:Islam juga menghalalkan freesex dengan:
:1. Nikah Mutah
:2. Dengan adanya konsep perceraian dan poligami, itu adalah pelegalan freesex yang gak ada di agama lain
:
:Kalau dibarat atau dimanapun orang kafir lakukan freesex, itu urusan pribadi mereka. Soal dosa itu urusan mereka.
:Yang jelas agama kafir melarang freesex dan poligami, kaya kambing bandot aja.
:Tapi di Islam masalahnya lain, Islam melegalkan freesex dengan poligami.
:
:MAHAR = BAYARAN UNTUK KELAMIN ISTRI
:
:Termasuk gadis yang hendak diperkosa, perlu juga “wali” (temannya si pemerkosa) untuk menikahkan si gadis dengan PEMERKOSA dan musti ada penghulu.
:
:Untuk mengesahkan “upacara nikah” katrok tersebut.
:
:Dan efek dari pernikahan itu musti ada tanggung jawab (nafkah) lahir (materiil) dan batin (immateriil). Dan juga konsekuensi gak boleh bersenggama dg yg bukan istri/suaminya.
:
:
:kata siapa tidak boleh bersenggama dengan yang bukan istri? Kalau si suami ingin senggama dengan cewek lain, tinggal dia panggil penghulu lagi dan sah-lah hubungan seksual di antara si suami dengan cewek tersebut.
:
:Intinya, ISLAM TIDAK MELARANG SERONG, SELINGKUH, PENYELEWENGAN, atau apapun namanya yang pada intinya adalah bentuk perilaku KETIDAKSETIAAN seorang pria terhadap pasangannya.

:

: